Minggu, 13 Oktober 2013

Mesin Penghangat


Tempat ini, 
Sering kuhabiskan berjingkrak dengan perasaan, 
Menari dengan penuh cinta, 
Serta riang yg menemani cangkir kopi yg hangat di pagi hari.

Minuman ini, 
Disajikan hangat seperti dekap pelukan, 
Seperti saat mengutarakan "Selamat Pagi, sayangku." di setiap fajar,
Rasa manis yg bertahan lama di pangkal lidah seperti hal yg sama saat kamu mendaratkan kecup di keningku.

Wajah ini,
Tak pernah kering dihempas cium-cium kecil menyeluruhi setiap sudut tanpa spasi.

Tapi...
Kini pagiku begitu basi!
Mesin penghangat tidaklah rusak,
Ia hanya tidak mau menghangatkan, 
Dan tidak bekerja seperti biasanya saja.

Tapi...
Kini tempat ini begitu dingin!
Iya, betul, karna masalah dari mesin penghangat itu.
Entahlah, 
Ia lebih membiarkan sekitar terlihat lebih dingin dari biasanya.

Dan kini...
Kening serta wajahku pun kering,
Tanpa daratan dari kecupanmu itu,
Peluk pun mulai longgar dari lingkaran tanganmu yg begitu erat saat lalu.

Apa ada masalah? Sepertinya tidak!
Pagi kemarin semua hal masih berjalan begitu normal.
Tapi, kini tidak lagi.

Hai, Mesin Penghangat.
Apa kamu tidak mau lagi menemaniku?
Aku butuh kamu melebihi dari kata "Mesin" atau "Penghangat" saja.

Kamu itu hidupku,
Bagaimana bisa aku merasa hangat di setiap harinya jika tanpa hadirmu?

Aku ingin kamu dengan sangat,
Lebih dari mesin penghangat sungguhan yg baru saja kubeli tadi sore.
Aku ingin kamu menghangatkan perasaanku sesuai semestinya.
Sungguh, ini seperti beku,
Setelah kepergian dengan ucapanmu di malam tadi yg begitu dingin.





***Sayang, ini baru saja tertinggal dalam beribu detik, tapi aku sudah tak bisa berkutik, tanpamu...



@vidhakiky - Le matin 1h24.





Selasa, 27 Agustus 2013

Kawah Singkidang ( A Trip To Dieng #5 )


Kawah Singkidang adalah tempat wisata di daerah Dataran Tinggi Dieng yg paling popular dikunjungi para wisatawan. Karna tempatnya lah yg paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karna lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah dalam suatu kawasan luas. Dari karakter inilah namanya berasal, karna penduduk setempat melihatnya berpindah-pindah seperti kijang, (Kijang = Kidang (dalam Bahasa Jawa)). 


Nah makanya nih, untuk setiap tahunnya, lubang yg mengeluarkan gas itu selalu ditempat yg nggak sama. Bisa jadi, tanah yg sedang gue pijak saat waktu kesana, kemungkinan juga akan menjadi letak kawah atau lubang yg mengeluarkan gas pada tahun-tahun atau waktu berikutnya. Udah bingung mau nulis apa dan ngomong apa lagi, soalnya tempatnya keren banget, bikin tercengang dan menganga sepanjang ngelilingin kawasan ini. Then, one thing for sure and never forgeted is capture some photos. Check all those…
--- >> 

































Sekitar jam 2.00 siang, gue udah bergegas buat balik kanan grak menuju parkiran dan mau balik ke home stay, karna sore ini emang djadwalin harus pulang. Oh, bye Kawah Singkidang, that time I had to go...






Di tempat parkiran Elf gue ini pas banget disebelahnya itu ada toko oleh-oleh. Gue pun hunting T-shirt khas gambar Dieng untuk buah tangan dan kenang-kenangan. I loved one of the print on that T-shirt, so I bought it. In a meanwhile gue pun kebaran berempat bareng buat beli bajunya samaan. Then I bought one more for Swadhika in Jakarta. Ini dia gaya gokil gue berfoto terakhir di samping toko oleh-oleh Dataran Tinggi Dieng. Good bye Dieng, next time I'll visit here again. :)






















Well, times turned. It was my last day and Kawah Singkidang was a last place I visisted. I enjoyed the trip, was totally happy or kind’a that feeling. Can’t describe any feeling for more, so damn terribly excited, yes indeed. Thank God for the chance, for the friends who were kindly people, and for the beautifully-beautiful places on Earth, especially in Dieng that created by God’s Hand.

***Merci beaucoup, my Dear Swadhika @sukusiku for the chance either, my cousin Khrisna @rumboot , friends Ardhi @sobat_ardhi & Danial @badruzaman_ , and my roomates Novi @noviariyani & Tery @tery_makasih & Arum @arum_puspus , and other new friends Duta @dutaakbarrr , Ade @adhepehul , Okha @Khascet , Tea @sunteaedogawa , Yayan @yayanKUSWARA , Barata @SwarhaBarata , Surya @suryamp , Harris @harris_a , Andi , Nova & Ocim (Husband&Wife) , Wiji & Amin (Husband&Wife) , Maya and more others, for the nice trip plus a great experience. 


*** @vidhakiky :) :) :) 

Puncak Gunung Sikunir ( A Trip To Dieng #4 )

Oke, hari terakhir di Dieng itu pas banget sama puncak acaranya Dieng Culture Festival. Besok juga masih ada dua tempat wisata yg mau dikunjungin. Jadi gue balik ke Home Stay dan istirahat. Minggu, 30 Juni dini hari sekitar jam 3.00 bangun, ganti pakaian, dan siap-siap naik ke Puncak Gunung Sikunir. Well, I didn’t sleep at all, jadi mata masih merem-merem-melek kayak abis makan rujak keaseman.

Cara menuju ke Puncak Sikunir itu harus hiking menanjak, naik sekitar satu kilometer ke atas puncak dengan tingkat ketinggian 2350 meter dpl (mdpl) dari permukaan laut, sudut kemiringan 70derajat dan suhu 10derajat Celcius (diatas gunung) . Gunung Sikunir ini berjarak sekitar 8km dari Dataran Tinggi Dieng. Nah, kata warga Dieng, kalo nanjaknya pas pertengahan bulan Agustus sekitar tanggal 16 sampai 22 atau 25 Agustus, kemungkinan besar kita akan lihat salju diatas puncaknya.

Waiting is the most horrible thing, but waiting for the Golden Sunrise ain’t like that. Sekitar jam 4.45 pagi udah sampe Puncak Gunung Sikunir dan nungguin langit berubah warna dari gelap ke cerah. Dan ketika langit berwarna orange itu indahnya minta ampun. I couldn’t say anything beside *Suhanallah. 













Tadaaaaa, setelah langit terang gue pun turun gunung sekitar jam7an. Nah yang bikin kaget adalah, ketika tadi gue nanjak saat semuanya masih gelap gulita, pas turunnya gue dapet surprise lagi dari pemandangan yg ada di bawah Gunung Sikunir itu, yg ternyata ada Danau juga di sebelah area parkiran. Dan baru terlihat setelah pagi dan semuanya terang, it was so beautiful. Nggak nyangka dan nggak lupa juga buat foto-foto lagi bareng rombongan. It’s a must!  Here these all…











Thank God, bisa naik dan turun Gunung Sikunir dengan selamet. And next place and the last one is Kawah Singkidang. Let’s see what was going on there on the next feature. Enjoy reading. :)