Selasa, 20 Desember 2011

E.N.T.A.H

     Senyum-senyum kecil yg sedikit menggerogoti hati. Inginnya dikira "I'm OK" but if only you realized that "I'm not OK". Selalu, senyumya menipu dirinya, berharap diketauhi tapi enggan memberitahu. Aku-Dirimu, selalu ada, bersama tapi tak bersamaan, berjalan sendiri-sendiri sesuai karakter hidup masing-masing. Lalu, dipandang lagi wajahnya, diremas lagi hati serta jantung yg berdetak, nafas terengah seolah akan diambil jiwanya.   Duduk berdekatan, tertawa, bercerita, terkadang sesekali ingin bercinta.




     Berlalu lalu lalu lalu dan lalu selalu ditutupinya cerita karna malu, tapi hanya selalu seperti ini , tak ada perubahan dan tak ada yg berubah. "Memiliki?" Oh bukanlah akhir dari cerita hati. "Memiliki?" Oh bukanlah jalan satu-satunya menanti menikmati sendiri. Terpikir, apa tidak ada jalan lain atau apa tidak ada orang lain? *Mungkin*  Belumkah cukup? 2tahun 3bulan mendamba tanpa ada aba aba mencinta. Cukupkah? Mengerti, selalu dicobanya mengerti tapi tak bisa dimengerti. Berdua berlama-lama sendiri. 


"Mengapa tak ada yg menemani hari?" 


"Sudah dicoba  mendekati tapi tak termiliki." jawabnya. 


"Aku ingin menemani!" ketusnya dalam hati, enggan dibesarkan suara, takut ketahuan. Hanya mencetus "Picky?" 


"Yup, it might be true!". 
     


     Seandainya kau tahu, aku ini dirimu, Mengapa tak bisa bersatu? Atau mungkin terkilas seperti harapan kosong. Tidakkah terdengar dungu dan tak ada guna? Hanya meminta dirinya tahu akan hal ini. Menunggu 2tahun lebih terdengar begitu melelahkan, hari yg selalu dipenuhi harap tapi tanpa tau harap itu akan meluap.




     Entahlah, yg penting rasa ini penuh dinikmati. Tidak merugi walau sedikit tersakiti, tapi tetap terjawab "E.N.T.A.H". Diriku-Dirinya, 2tahun dengan rasa ini dan rindu yg menjebak dalam rasa biru, tertutup rapat, tersimpan cerita tanpa tanya yg *Mungkin* terjawab "E.N.T.A.H" .....

Minggu, 11 Desember 2011

Merindu Hatimu

Murka yang tenggelam
Duka yang menghilang
Jauh memudar
Terkilas senyum-senyum kecil terhapus ombak

Akankah menepi?...
Gejolak-gejolak itu telah pergi
Terbang meninggalkan badai

Hati riuh...
Bergelayut tanya dalam tanda koma
Belum berhenti dan terus tersakiti
Dari rindu yang menyisa damba lalu


Sungguh, tinggal bersamamu
Dalam bayang-bayang terbuang
Sungguh, ingin bersamamu
Dalam nyata berkata buta

Hati terpaku
Hati membeku
Hatimu, aku
Hatiku, baku...

Jauh melebihi ambang batas dari terka
Jauh menghindari ruang batas dari murka
Kupikir, biasalah saja
Tapi sedikit bermuram durja

Merindumu bukan sejenak
Hanya terpaku dalam benak
Ingin memeluk
Hingga tulang belulang remuk
Setara dengan kulit tanpa antara
Dan itu berlalu saat kita memahami
Jika tubuh membumi

Begitu berkelit, hingga lidah berkelit...
Begitu sukar memukar, hingga senyum membelukar
Entahlah.........
Hanya peka terasa enggan menguasa...

Elegi

Berdiri... Menepi...
Menunggu hujan terhenti...
Terhalang tapi bukan terbuang
Seperti jarum menusuk terpaku
Dalam buntalan busa yang memaku...

Aku ada disini
Bukan karena dirimu,
Tetapi hanya diriku mau...

Mungkin...
Lelah tak bisa dipungkiri
Aku tetap menunggu
Sampai hujan terhenti...

Akankah deras lagi?
Akankah?..........
Air mata layak kering kerontang menunggumu datang...

Bolehkah kupinta?
Bolehkah?..........
Lalu senyumku tersipu malu
Dalam sentuhan rindu pilu...

Membencimu bukanlah maksud diriku
Hanya penat terasa
Jika dirimu ada disekitat jiwa...

Mencintaimu bukanlah pula maksud anganku
Hanya damai terpanggil
Jika dirimu hadir disaat getir...

Aku mau, dirimu, utuh...
Yang tidak hanya tersimpan
Dalam saku-saku mimpi-mimpi basiku...





-Vidha_Kiky, 4h27-