Selasa, 24 Januari 2012

Bertahun Dalam Elegi


*8 Februari 2010
“Hey, boleh aku menimbang hatimu?” | “Untuk?” | “Ingin tahu seberapa berat rasamu.” | “Mungkin, tidak lebih dari seper-empat dari hatimu!” | “Oh ya?” | Ya! Tidak peduli seberapa, yg penting aku hatimu, hatimu aku!”

*24 Maret 2010
Mungkin sedikit mati atau sedikit tertanggapi. Entahlah? Hanya saja ingin berlari kerumah dan mengetuk pintu hatimu.

*29 April 2010
Diri yg sudah bobrok, kamu hanya menengok dalam tegur sapa dan beralur lupa. Oh, aku butuh dirimu yg bukan hanya tersenyum buta dimuka.

*13 Mei 2010
Tersadarkah bahwa aku begitu dirimu? Lalu? Kamu tak mau tahu? Atau? Hinakah? Dan semakin tidak peduli. Kini dambaku berlalu kian merindu.

*20 Juni 2010
Tawa itu terbahak lewat kedua kupingku. Senyum itu mampir lewat kedua mataku. Stop! Bayangmu, lalu dirimu, janganlah memaksa hadir dalam harapku.

*11 Juli 2010
Terbelenggu dan membisu. Tersiksa namun tak terluka. Sungguhlah ini jauh dari kata surga. Seperti menggenggam hati sendiri lalu menadah rindu.

*31 Agustus 2010
Tak adakah sisa ruang untukku? Atau biarkanlah ku menunggu di lorong-lorong kecil mendekati hatimu.  Oh, tak apa dan tak mengapa. Asalkan posisiku dekat, walau tidak ditempat yg terdekat.

*25 September 2010
Hey, inginku mengganti kasur hangat ini dengan membuang jauh-jauh bayang tidurmu. Mimpiku selalu penat, terselimuti olehmu.

*17 Oktober 2010
Berlau waktu ke waktu. Ruang ini masih sunyi dan belum terpadati. Aku pun masih sembunyi dan belum terdapati. Lalu, dirimu tetap membisu.

*5 November 2010
Aku mencari diri dalam dirimu. Mengapa bertemu? Mengapa menderu? Lalu? Rasa ini pun lekat terlalu pekat. Hingga hati pergi meninggalkan jingga.

*14 Desember 2010
Datang penuh ribu senyum serta niat ini-itu dan (ehm) pulang begitu saja lalu melupa. Seakan tak ada kata “Terima Kasih”.

*27 Januari 2011
Sudah berbulan lalu menunggu. Selalu, dengan rasa dan rindu yg sama. Lalu sofa ungu itu terlihat begitu kosong tanpamu.

*12 Februari 2011
Terlau larut untuk ku datang dan meminta. Sedang dirimu asik dengan sisi tak berdua. Cukuplah! Rasa ini pun cukup penuh untuk ku tumpahkan.

*6 Maret 2011
Selesai! Dan bab ini selesai tanpa namamu. Elok! Hati mengkilap dengan sinar-sinar gaibnya. Kapan mulai lagi? Entah?! Tanpa nama (dirimu) tiadalah kata.

Senin, 23 Januari 2012

Dear..... It's you, Dear.....


        Dear, sejak saat itu aku tahu aku jatuh dalam satu kali pertemuan, satu kali bertatap mata, dan satu kali senyuman yg pernah terpancar dari muka itu. Namun, mengapa tidak sekali saja, bahkan malah beribu kali lipat aku bisa merindumu.
         
        Aku, kamu, dan obrolan topik hangat kita, sementara kedua cangkir kopi panas itu sudah semakin bertambah dingin, dilupakan, dibiarkannya dingin sampai topik-topik hangat  itu selesai dibahas, lalu panasnya diterbangkan 
angin.

        Dear, sungguh aku suka cara bicaramu, cara pandangmu, pola pikirmu, dan cara-caramu mengarahkan lirikan tajam yg terbungkus rapih dalam satu senyumanmu itu. Ya Tuhan, sebetulnya aku jatuh dalam senyuman-senyuman itu.
        
        Dear, apa pernah terlintas namaku di setiap malammu? Apa pernah tak sedetikpun lupa akan diriku? Atau pernahkah sebentar saja merasa merinduku?  Aku sungguh begitu............... Ya, begitu merindumu, hingga mungkin bulan sudah muak akan rasa merindu dalam setiap malamnya, lalu matahari pun bosan pada setiap doa pagi yg terpanjat penuh akan harapmu.
         
        Aku tahu Dear, pertemuan itu biasalah saja bagimu, hanya mengobrol dan meminum secangkir kopi. Namun, aku ingin sekali selalu mengulang kejadian itu berulang kali disetiap minggunya, meski tanpa hadirmu. Aku, diriku selalu memesan jenis kopi yg sama, di meja yg sama, dan di setiap petang hari yg sama, sambil membayangkan kamu duduk di hadapanku. Ya Dear, aku tahu, sekali lagi itu hanya khayalanku.
        
         Dear, datanglah lagi ke kota ini. Dimana aku selalu membuka pintu lebar-lebar untuk kunjunganmu. Lalu, menetaplah di hatiku, dan jangan pergi lagi.
        
         Dear, berilah senyum indah itu di setiap rinduku yg terjaga. Genggamlah tanganku di setiap aku lupa akan jalanku menuju hatimu. Liriklah matamu saat mataku terbelalak pada ketampanan lain. Tuntunlah langkahku jika arah yg ku tapak berbelok berkelok. Jangan biarkan aku pergi sendiri. Namun, lepaskanlah jika sudah berada persis di depan pintu itu, akan ku ketuk lalu masuk, agar aku bisa menari bebas di dalam hatimu.
        
         Dear maaf, imajinasiku mungkin sedikit liar atau hilang akal. Namun............... “Sungguh, aku suka cara bicaramu, aku suka cara pandangmu, aku suka pola pikirmu, dan caramu mengarahkan lirikan tajam yg terbungkus rapih dalam satu senyumanmu itu. Ya Tuhan, aku jatuh dalam senyuman-senyuman itu.” Ya Tuhan, aku sangat jatuh dan tenggelam dalam imajinasi fiktif-ku ini.
         
        Ubahlah fiktif-ku ini menjadi ada atau setidaknya biarkanlah menjadi sedikit nyata. Damba ini begitu basi, rindu ini sudah terlalu basi,  tapi.......... bagaimana tidak dengan senyummu itu? Lalu, seperti borax namamu awet dihatiku.
        
        Aku, disetiap pagiku selalu merindumu. Terbayang ketika senyum-senyum itu tergantung di sela sinar mentari, hangat, menyinari pagi ini.
        
        Dear, aku pun tahu, aku begitu semu dalam hidupmu. Namun, bisakah menganggapku utuh walau sebentar saja? Karna hatiku begitu dirimu. Yes, it’s you.......... Dear.

                                                                                @vidhakiky