Dear, sejak saat itu aku tahu aku jatuh dalam satu kali pertemuan, satu kali bertatap mata, dan satu kali senyuman yg pernah terpancar dari muka itu. Namun, mengapa tidak sekali saja, bahkan malah beribu kali lipat aku bisa merindumu.
Aku, kamu, dan obrolan topik hangat kita, sementara kedua cangkir kopi panas itu sudah semakin bertambah dingin, dilupakan, dibiarkannya dingin sampai topik-topik hangat itu selesai dibahas, lalu panasnya diterbangkan
angin.
Dear, sungguh aku suka cara bicaramu, cara pandangmu, pola pikirmu, dan cara-caramu mengarahkan lirikan tajam yg terbungkus rapih dalam satu senyumanmu itu. Ya Tuhan, sebetulnya aku jatuh dalam senyuman-senyuman itu.
Dear, apa pernah terlintas namaku di setiap malammu? Apa pernah tak sedetikpun lupa akan diriku? Atau pernahkah sebentar saja merasa merinduku? Aku sungguh begitu............... Ya, begitu merindumu, hingga mungkin bulan sudah muak akan rasa merindu dalam setiap malamnya, lalu matahari pun bosan pada setiap doa pagi yg terpanjat penuh akan harapmu.
Aku tahu Dear, pertemuan itu biasalah saja bagimu, hanya mengobrol dan meminum secangkir kopi. Namun, aku ingin sekali selalu mengulang kejadian itu berulang kali disetiap minggunya, meski tanpa hadirmu. Aku, diriku selalu memesan jenis kopi yg sama, di meja yg sama, dan di setiap petang hari yg sama, sambil membayangkan kamu duduk di hadapanku. Ya Dear, aku tahu, sekali lagi itu hanya khayalanku.
Dear, datanglah lagi ke kota ini. Dimana aku selalu membuka pintu lebar-lebar untuk kunjunganmu. Lalu, menetaplah di hatiku, dan jangan pergi lagi.
Dear, berilah senyum indah itu di setiap rinduku yg terjaga. Genggamlah tanganku di setiap aku lupa akan jalanku menuju hatimu. Liriklah matamu saat mataku terbelalak pada ketampanan lain. Tuntunlah langkahku jika arah yg ku tapak berbelok berkelok. Jangan biarkan aku pergi sendiri. Namun, lepaskanlah jika sudah berada persis di depan pintu itu, akan ku ketuk lalu masuk, agar aku bisa menari bebas di dalam hatimu.
Dear maaf, imajinasiku mungkin sedikit liar atau hilang akal. Namun............... “Sungguh, aku suka cara bicaramu, aku suka cara pandangmu, aku suka pola pikirmu, dan caramu mengarahkan lirikan tajam yg terbungkus rapih dalam satu senyumanmu itu. Ya Tuhan, aku jatuh dalam senyuman-senyuman itu.” Ya Tuhan, aku sangat jatuh dan tenggelam dalam imajinasi fiktif-ku ini.
Ubahlah fiktif-ku ini menjadi ada atau setidaknya biarkanlah menjadi sedikit nyata. Damba ini begitu basi, rindu ini sudah terlalu basi, tapi.......... bagaimana tidak dengan senyummu itu? Lalu, seperti borax namamu awet dihatiku.
Aku, disetiap pagiku selalu merindumu. Terbayang ketika senyum-senyum itu tergantung di sela sinar mentari, hangat, menyinari pagi ini.
Dear, aku pun tahu, aku begitu semu dalam hidupmu. Namun, bisakah menganggapku utuh walau sebentar saja? Karna hatiku begitu dirimu. Yes, it’s you.......... Dear.
@vidhakiky
Tidak ada komentar:
Posting Komentar