Selasa, 15 Januari 2013

Aku Sebagai Orang Ketiga



Begitu lelah. Malam semaki sunyi, hujan pun menghampiri. Aku berlari dengan sekuat tenaga dan terengah-engah mengejar angkutan umum berwarna biru tua itu.

“Fiuh…” hela nafasku.

Aku pun duduk tepat di belakang pengemudi. Duduk menyerong-menyamping karna menghindari panas dari dekat mesin.

Tiba-tiba………

“Nanti kalo Ayah udah nggak jadi supir taksi lagi, kamu berhenti les bahasa Inggrismu itu dulu ya, Nak.”

Suara sang Ayah memberhentikan lelahku dan mencoba untuk lebih fokus pada percakapan ini.

“Lho, emang Ayah udah nggak mau nyetir lagi? Kenapa Yah?”
“Gajinya kecil, nggak cukup buat biaya kebutuhan sehari-hari kita.”
“Terus Ayah cari uangnya gimana? Kalo lesku diberhentikan, aku gimana belajar bahasa Inggrisnya, Yah?”
Kan nanti bisa Ayah yg ajarin. Ayah mau pindah kerja aja. Mungkin jadi buruh pabrik yg lumayan gajinya.”
“Pabrik apa, Yah?”
“Pabrik granit dan keramik, yg biasa buat lantai itu lho.”
“Ayah………”
“Ya?”
“Aku boleh nanya nggak?”
“Boleh dong, emang mau nanya apa?”
“Hmmmm……… Kenapa kita nggak pindah rumah aja, Yah? Rumah kita kan udah jelek banget. Terus kalo lagi ujan juga suka bocor.”
“Insya Allah ya, Fajar. Kita nabung dulu, kumpulin uang biar bisa cari rumah yg lebih bagus.”
“Yah Ayah… Uangnya buat beli mobil aja deh, nggak usah rumah. Temen-temenku pada punya mobil. Aku punya apa? Mobil taksi doang mah nggak keren, Yah.”
“Iya… Iya sayang.” Sang Ayah mengangguk sambil mengelus kepala Fajar.

Aku yg setengah mengantuk, tidak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Anaknya di dalam angkutan umum itu. Banyak hal lain yg mereka bicarakan di sepanjang perjalanan. Fajar, Ia nama anak dari Ayah itu. Kira-kira usianya delapan tahun dan Ia begitu polos. Aku tertegun mendengar sang Ayah begitu bersahabat membicarakan tentang pekerjaan dan keadaan rumahnya.

Aku menutup mata dan berdo’a:
“Ya Tuhan, limpahkanlah rejeki kepada kedua penumpang yg sedang duduk di bangku depan itu. Berikanlah Fajar masa depan yang cerah, agar bisa merubah nasib dan keadaan keluarganya. Berkatilah setiap rejeki yg mereka punya. Engkau punya segalanya, Tuhan. Maka berikanlah pendidikan yg baik untuk Fajar, pekerjaan yang layak untuk Ayahnya, serta kesehatan untuk seluruh keluarganya. Aamiin.”

Aku memang hanya penumpang yang duduk di kursi belakang pengemudi yang sedang mendoakan orang asing yang bahkan rumah dan keluarganya saja aku tak tahu. Entah perasaan macam apa ini? Maaf jika aku menguping pembicaraan orang, lalu mendoakannya. Tapi aku tahu, Tuhan itu tidak buta. Semoga Engkau mendengar do’aku tentang dan untuk mereka.



~~~Surat ini untuk Fajar dan Ayahnya itu~~~

Selasa, 15 Januari 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar