Begitu lelah.
Malam semaki sunyi, hujan pun menghampiri. Aku berlari dengan sekuat tenaga dan
terengah-engah mengejar angkutan umum berwarna biru tua itu.
“Fiuh…” hela
nafasku.
Aku pun duduk
tepat di belakang pengemudi. Duduk menyerong-menyamping karna menghindari panas
dari dekat mesin.
Tiba-tiba………
“Nanti kalo Ayah
udah nggak jadi supir taksi lagi, kamu berhenti les bahasa Inggrismu itu dulu
ya, Nak.”
Suara sang Ayah
memberhentikan lelahku dan mencoba untuk lebih fokus pada percakapan ini.
“Lho, emang Ayah
udah nggak mau nyetir lagi? Kenapa Yah?”
“Gajinya kecil,
nggak cukup buat biaya kebutuhan sehari-hari kita.”
“Terus Ayah cari
uangnya gimana? Kalo lesku diberhentikan, aku gimana belajar bahasa Inggrisnya,
Yah?”
“Kan nanti bisa Ayah yg ajarin. Ayah mau pindah
kerja aja. Mungkin jadi buruh pabrik yg lumayan gajinya.”
“Pabrik apa, Yah?”
“Pabrik granit dan
keramik, yg biasa buat lantai itu lho.”
“Ayah………”
“Ya?”
“Aku boleh nanya
nggak?”
“Boleh dong, emang
mau nanya apa?”
“Hmmmm……… Kenapa
kita nggak pindah rumah aja, Yah? Rumah kita kan udah jelek banget. Terus kalo lagi ujan
juga suka bocor.”
“Insya Allah ya,
Fajar. Kita nabung dulu, kumpulin uang biar bisa cari rumah yg lebih bagus.”
“Yah Ayah… Uangnya
buat beli mobil aja deh, nggak usah rumah. Temen-temenku pada punya mobil. Aku
punya apa? Mobil taksi doang mah nggak keren, Yah.”
“Iya… Iya sayang.”
Sang Ayah mengangguk sambil mengelus kepala Fajar.
Aku yg setengah
mengantuk, tidak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Anaknya di dalam
angkutan umum itu. Banyak hal lain yg mereka bicarakan di sepanjang perjalanan.
Fajar, Ia nama anak dari Ayah itu. Kira-kira usianya delapan tahun dan Ia
begitu polos. Aku tertegun mendengar sang Ayah begitu bersahabat membicarakan
tentang pekerjaan dan keadaan rumahnya.
Aku menutup mata
dan berdo’a:
“Ya Tuhan,
limpahkanlah rejeki kepada kedua penumpang yg sedang duduk di bangku depan itu.
Berikanlah Fajar masa depan yang cerah, agar bisa merubah nasib dan keadaan
keluarganya. Berkatilah setiap rejeki yg mereka punya. Engkau punya segalanya,
Tuhan. Maka berikanlah pendidikan yg baik untuk Fajar, pekerjaan yang layak
untuk Ayahnya, serta kesehatan untuk seluruh keluarganya. Aamiin.”
Aku memang hanya
penumpang yang duduk di kursi belakang pengemudi yang sedang mendoakan orang
asing yang bahkan rumah dan keluarganya saja aku tak tahu. Entah perasaan macam
apa ini? Maaf jika aku menguping pembicaraan orang, lalu mendoakannya. Tapi aku
tahu, Tuhan itu tidak buta. Semoga Engkau mendengar do’aku tentang dan untuk
mereka.
~~~Surat ini untuk Fajar dan Ayahnya itu~~~
Selasa, 15 Januari
2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar