Minggu, 24 Juni 2012

Ellington and Bennington... (Di Antara Keinginan dan Kebutuhan)



        Aku sang penjelajah, dengan sepiring pesawat terbang luar angkasa yg mengitari tata surya. Jauh sebelum itu, aku hanyalah manusia biasa yg bertempat tinggal di Bumi. Entahlah, Bumi hampir reyot termakan waktu dan kesombongan manusia lainnya. Aku menjauhinya hanya untuk mencari planet-planet baru yg bisa kusinggahi dan kutinggali dengan aman.

        Sudah lama, yah lama sekali, seberapa waktu tahun cahaya pun aku lupa. Tak sengaja aku memijakkan kakiku diatas Planet Kebutuhan yg bernama Bennington. Ben lebih tepatnya biasa kupanggil. Ben, planetya penuh kenyamanan, teduh, dan berbagai rasa yg aku butuhkan selalu ada disana. Planet Kebutuhan yg Ben ciptakan begitu damai dengan hamparan rumput menghijau, lalu diakhiri dengan jatuhan butiran-butiran air jernih seperti air terjun mungil mengairi sungai-sungai kecil. Pagi yg selalu cerah dengan pandangan Matahari yg masih malu-malu memunculkan sinarnya, yg memang lebih dekat dan lebih indah dibandingkan dengan Bumi. Siang pun tak terlalu panas menyengat, senja yg begitu hangat dengan gradasi warna yg menarik perhatian, petang yg mulai mengeluarkan hawa dingin dengan langit kelabu, lalu diakhiri malam yg bertabur ribuan rasi bintang menghiasinya. Aku sempat berpikir, inikah surga? Jika iya, beruntunglah aku bisa menapaki kaki di planet ini. Hanya Tuhan yg tahu sebagaimana bahagianya aku tinggal disini. Jauh dari hiruk pikuk kekacauan ibukota di Bumi. Jauh dari keserakahan akan merebut-rebut mimpi dan kekayaan. Disini aku merasa kaya, kaya akan rasa yg entahlah tak bisa kusebutkan dan kugambarkan secara detil maksud perasaanku.

       Aku sudah lama mengenal Ben. Bisa kubilang, Ben sahabat terbaikku. Tiadalah jemu jika aku bermain seharian tanpa lelah di atas planetnya. Ben pun tak pernah keberatan, jika aku sesekali bosan, terbang dan mencari planet baru yg mungkin lebih baik darinya. Walau akhirnya, planet Ben lah masih jadi yg terbaik.

“Diantara pagi, siang dan malam, mengapa senyummu selalu merekah pada saat senja?” Tanya Ben kepadaku.

“Aku suka Orange, dan saat senja itulah Matahari menunjukan warna kesukaanku.”

“Lalu, bagaimana dengan malam? Mengapa begitu sendu, lalu berganti pagi yg begitu merindu?” Ben keheranan.

“Malam begitu hitam bagiku, saatnya bermuram durja, lalu pagi begitu merindu, saat aku merindukan senja setelah Matahari menerbitkan sinarnya.” Jawabku antusias.

        Suatu malam, disaat aku tidur terlelap dan terbangun dengan sadar karna guncangan-guncangan kecil yg berasal dari kekehan tawa Ben yg entahlah dia sedang berbicara dengan siapa? Karna yg kutahu, Ben hanya sendiri. Kejadian ini hampir berulang-ulang dan membuat tidur malamku kian tak nyenyak. Esok paginya aku memberanikan diri bertanya pada Ben.

“Apa yg kamu kerjakan di hampir setiap malam hingga dini hari, Ben?”

“Apa maksudmu?” Jawab Ben heran.

“Hampir setiap malam tidurku tak nyenyak, planetmu selalu berguncang tawa dengan suara kekehanmu itu!” Jelasku.

“Oh itu maksudmu… Hahahahaha… Hahahahaha…”

Ada yg lucu dengan pertanyaaku, Ben?”

“Ah tidak… Hahahahaha… Hahahahaha…”

“Lantas, mengapa kamu tertawa?”

“Ah tidak, lupakan saja. Maaf jika aku mengganggu tidurmu. Aku hanya bermonolog dengan diriku sendiri.” Jelasnya.

        Waktu kian berlalu. Lama-lama aku semakin tak nyaman dengan keadaan malam yg mengganggu tidurku. Entahlah, pikiranku kacau. Apa benar Ben sedang bermonolog dengan dirinya sendiri? Atau ada seorang yg lain, yg sengaja tinggal di planetnya tanpa sepengetahuanku? Atau jangan-jangan dia sudah punya teman dekat lain, selain aku? Ya Tuhan, pikiranku kacau saat itu. Lalu kuputuskan untuk bermalam di Pesawat Piring Terbangku, walaupun tempatnya tidak seluas planet Ben. Ada waktu dimana aku tetap terjaga di malamku. Aku banyak pikiran, semakin kupikirkan, semakin kusut pikiranku. Aku mencoba menyalakan mesin pesawatku dan mengelilingi tata surya. Sepi, semuanya mungkin sedang beristirahat, kecuali Bulan yg memang selalu bekerja malam berganti paruh waktu dengan Matahari. “Ah sepi sekali, tak ada yg menghibur!” Pikirku. Lalu aku memutar balik arah dan kembali ke tempatku yg semula.

        Setibanya disana, aku melihat Ben sedang bercakap dengan planet lain, yg tak pernah ku kenal sebelumnya. Aku memperhatikan mereka diam-diam. Sepertinya pembicaraan mereka seru sekali, ada gelak tawa yg disisipkan ditengah perbincangan serius. Suara Ben dan planet itu masih terdengar samar. Topik apa yg sedang mereka bicarakan? Aku ingin sekali mendekatkan pesawatku ke arah mereka, tapi takut ketahuan. Biarlah kusaksikan dari sini saja. Hal ini berkelanjutan pada malam-malam selanjutnya.

        Esok pagi, ketika aku menapakkan kembali kakiku ke planet Ben. Ben menyapaku bersahabat. “Bagaimana tidurmu semalam?” Tanyanya. Kujawab “Cukup baik”. Tak ada yg aneh dengan tingkah Ben pagi ini. Aku menunggu ia menceritakan tentang teman barunya, namun tak ada sepatah kata pun yg menyinggung tentang itu dalam pembicaraan kami.

“Ben…?”

“Ya… Ada apa?”

“Sesungguhnya semalam aku tak terlelap, terjaga sampai pagi. Aku mengitari tata surya, tapi semua sepi-beristirahat. Ketika jalanku menuju pulang, aku tak sengaja memergokimu sedang berbicara dengan planet baru yg sesungguhya belum pernah ku kenal sebelumnya. Siapa dia?”

“Dia?... Ah apa maksudmu?” Jawab Ben tidak mengakui.

“Yg semalam berbicara denganmu itu… Aku sudah tahu, sebenarnya hampir setiap malam aku tahu kamu bukan bermonolog, tapi berdialog dengan planet baru itu. Mengapa tidak pernah menceritakan tentang dia, padaku?”

“Oh… Hmmmmm… Aku… Dia… Aku bingung harus mulai menceritakannya darimana?”

“Ceritakanlah dari hal yg menurutmu nyaman, Ben.” Pintaku.

“Baiklah… Dia saudara kembarku, dia itu Planet Keinginan. Namanya Ellington, aku biasa memanggilnya Ell… Mengapa aku tidak pernah menceritakan tentangnya kepadamu, karna aku takut… Aku takut kamu berpaling dan tak kembali ke planetku… Aku butuh kamu yg menjadi manusia di planetku. Hanya kamu…”

“Ben, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu planet yg pertama kusinggahi setelah lelah berkeliling tata surya. Kamu yg ternyaman buatku. Parcayalah, aku ini milikmu, dan kamu milikku.”

        Setelah panjang lebar menceritakan tertang Planet Keinginan, Ellington. Ben pun akhirnya menyetujui untuk memperkenalkanku pada Ell. Sehari setelahnya aku mengunjungi Ell, dan berkenalan. Tak kusangka, Ell begitu mengenalku walau hanya lewat pembicaraan malam dengan Ben. Ell, betul-betul ramah, karakter planetnya pun tak jauh berbeda dengan Ben, hanya saja Ell lebih menyuguhkan warna dan mimpi-mimpi baru dalam hidup. Ell, selalu menciptakan planetnya penuh harapan, penuh mimpi akan kebahagiaan. Hal ini yg memang tidak ada di planet Ben.

        Hampir setiap pagi aku mengunjungi Ell, untuk memulai bermimpi pagi. Rasanya indah mempunyai mimpi. Dan Ell pintar menyuguhkan harap dan mimpi kemudian dijadikannya nyata. Mungkin karna itu pula planet Ell disebut Planet Keinginan. Apa yg kita inginkan ada disisni. Tanpa terkecuali. Aku merasa menjadi lebih dari sekedar hidup jika sedang bersama Ell. Namun sesuai janjiku, aku akan tetap menjadi manusia bagi Ben. Karna itu, jika setiap pagi aku mengunjungi Ell, setiap senja pun aku selalu pulang untuk menemui Ben.

        Pada satu senja, ketika aku menyalakan mesin pesawatku untuk pulang, tiba-tiba Ell memintaku menemaninya lebih lama. “Menikmati senja di tempatku akanlah lebih indah, maka menetaplah sebentar lagi.” Pinta Ell. Aku yg memang menyukai senja pun menurut. Ya Tuhan, senja dengan mimpi dan harap di planet Ell, sungguhlah indah, ah, sangat indah tepatnya. Rasanya seperti terbang tanpa sayap, terbalut warna yg memikat hati. “Kamu tidak bohong, Ell. Senjamu sungguh lebih indah dibanding tempat Ben!” Tuturku.

        Ada apa di planet Ell, sehingga membuat kakiku enggan berpijak pulang. Aku sungguh ingin tinggal di planet ini. Tapi bagaimana, Ben? Aku sudah keburu janji kepadanya.

“Tinggallah bersamaku, di planetku, banyak keinginanmu disini yg bisa aku kabulkan, banyak mimpi-mimpimu disini yg tentunya bisa kamu raih, jika kamu ingin tinggal bersamaku. Aku sudah mengenalmu dalam, ketika Ben selalu menceritakan tentangmu disetiap malamnya. Aku menginginkamu menjadi manusia yg tinggal di planetku. Menetaplah…” Ajak Ell.

“Aku… Aku… Aku… Aku sungguh ingin, tapi bagaimana dengan Ben?... Aku tidak bisa menghianatinya, apalagi berpaling kepadamu. Sesungguhnya planetmu adalah planet yg kuingin tinggali sejak dulu, Ell. Karna planetmu menyuguhkan keinginan mimpi indah bahkan harap pun menjadi nyata. Tapi………”

“Menetaplah disini… Soal Ben, nanti akan jadi urusan kami kemudian…”

        Aku yg terbujuk rayu oleh Ell, membiarkan senja, petang, malam dan pagi mengalir begitu saja. Aku lupa waktu pulang, aku lupa tempatku pulang. Ell telah pandai menaklukanku secepat itu. Hingga akhirnya aku tersadar dari tidur siangku, planet Ell berguncang hebat, hebat sekali, seperti gempa pada Bumi. Suara suara keras memekakan telinga. Astaga! Itu suara Ben! Aku melindungi diriku dengan masuk ke pesawat, menyalakan mesin dan kabur mengelilingi tata surya. Sampai saat waktu berlalu lama, aku memutuskan kembali pulang, namun Ben dan Ell malah semakin bertengkar. Suara-suara planet-planet bertabrakan-berbenturan.

“DIMANA MANUSIAKU?” Teriak Ben begitu marah.

“Apa? Manusiamu? Dia memutuskan untuk menetap di planetku.”

“KEMBALIKAN MANUSIAKU! DIA MILIKKU!” Bentak Ben.

“Dia, yg kamu bilang manusiamu itu, lebih memilihku, Ben. Sudahlah, serahkan dia kepadaku. Di planetku banyak keinginan dan mimpinya yg bisa ku penuhi. Sedang kamu? Apa masih bisa mermimpi? Apa berani?” Jawan Ell sombong.

“Planetku memang bukan sang pemimpi dan menuruti keinginannya, tapi aku adalah Planet Kebutuhan. Apapun yg dia butuhkan, akan aku sediakan. Mimpimu hanyalah belaka, Ell. Jangan terlalu sombong.” Tukas Ben kesal.

“Hahahahaha dia lebih menginginkanku, dibanding membutuhkanmu, Ben! Kamu harus sadar itu. Aku mempunyai senja yg lebih indah dari yg kamu punya. Dan dia pasti lebih menyukai senjaku. Hahahahahaha…”

“SUDAH DIIIIIAAAAAAAAM KALIAN BERDUA!” kataku memotong pembicaraan sambil menunjuk kearah dua planet ini. “APA KALIAN TIDAK BISA AKUR SAJA? Ben itu kebutuhanku. Ell itu keinginanku. Bisakah kalian berjalan bersamaan? Tidak bertengkar seperti ini. Aku akan berada di planet kalian jika kalian tetap bersama. Ingat, kalian itu saudara kembar.” Jelasku

“Ah tidak mungkin, Ell selalu mengambil manusia yg selalu membutuhkan aku dengan diiming-imingi keinginan olehnya!” Jawab Ben.

“Apa? Dan Ben juga selalu menjadi kebutuhan, jika manusiaku lupa dengan namanya keinginan.” Jawab Ell.

“Sudahlah, aku lelah, kali ini kalian bertengkar begitu hebat mengganggu tidur siangku, sedang saat lalu, malamnya terkekeh bersenda gurau mengganggu tidur malamku. Aku tidak bisa memastikan mana yg harus aku pilih diantara kalian. Planet Kebutuhan seperti Ben, atau Planet Keinginan seperti Ell? Aku memutuskan untuk tetap tinggal di Pesawat Piring Terbangku yg hampir bobrok sementara waktu, sesampai akhirnya aku menemukan jawaban kepada siapa aku akan memijakkan kaki dan hidupku, serta menjadi manusiamu, selamanya.”

        Aku menyalakan mesin, terbang mengitari-mengelilingi tata surya tanpa arah. Apa ini semua salahku? Bagaimana jika dulu aku tetap tinggal di Bumi, pasti aku takkan melihat dua planet ini bertengkar-berbenturan. Aku menangis meringkuk dengan tangan memeluk kaki, menangis sampai melupakan pagi, siang, senja, petang, bahkan malam, dan begitu seterusnya, menghabisi waktu dengan air mata yg tak pernah habis ditangisi. Aku tak tahu jalan pulang menuju Bumi. Aku tak tahu arah mana yg harus kupilh antara kebutuhan dan keinginan. Bennington adalah sesungguhnya kebutuhanku, tapi Ellington memang sebenarnya keinginanku.

        Entahlah, apa planet itu tetap bertengkar memperebutkanku? Sedang pikiranku pun bertengkar memperebutkan mereka. Aku, perasaanku, dan hidupku jatuh setengah mati, melewati hari tanpa keputusan yg pasti, sampai akhirnya aku tenggelam dan mati ditengah hamparan rasi bintang dan tata surya milikNya, mengembuskan nafas terakhir, ketika warna senja yg paling indah memikat hati, diatas bangku pengendara di Pesawat Piring Terbangku. 


**Ada dua hal yg tidak bisa kita pilih secara bersamaan. Antara "Kebutuhan" atau "Keinginan", mereka 2 hal yg berbeda. Maka, beruntunglah kamu, jika memiliki keduanya.**




@


Kamis, 14 Juni 2012

Sang Pengingat

-->
Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa mengunci hatiku rapat-rapat…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa membiarkan rindu membiru tanpa menggebu…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika air mata lupa jatuh terjun saat punggung itu meninggalkanku…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa menyalahkan asa dan langkah kaki yg tertapaki…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika hidupku lupa berjalan sejak tanpa hadir sisimu…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika senyumku lupa berbinar saat mataharimu menenggelamkanku…

Sayang, aku tahu…
Kamu tak suka…
Aku bukanlah seorang pelupa…
Aku sang pengingat, pengingat masa senja, kala bersamamu…
Aku bukanlah seorang pelupa…
Aku sang pengingat, detil-detil rindu yg termakan hati…

Aku sang pengingat,
ketika pernah hidup bersama butir angin yg merubah langitmu menjadi pelangi…
Aku sang pengingat,
ketika pernah lupa melupakanmu, melupakan warna bayang yg pernah tertoreh…
Aku sang pengingat, sayang…
ketika hanya dirimulah yg mencoba melupa beribu jejak-jejak di mimpiku…



                                                                                                       
                                                                                        @vidhakiky

Minggu, 10 Juni 2012

Frankenstein ooooohhh Frankenstein...


          Sesekali dicium, sesekali diendusnya kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Begitu menggoda, sosok badan dengan lekuk tubuh yang lumayan membuat rusuk getir menolak menjauh. Jantungnya berdebar dengan detak yg tak seirama. Pinggang kecil, dada OK, punggung mulus seksi, walau kaki tidak terlalu jenjang dan perut yg tidak terlalu rata, yah lumayan lah.

Berdua berdekatan, enggan berinteraksi, hanya saja ingin berada di sisi. Bermain jari kaki, ditekuk melekuk kakinya dengan kaki sang pacar, lalu diluruskan kembali, ditekuk melekuk lalu diluruskan kembali, dan begitu seterusnya. Ditambah dengan tawa-tawa kecil yg terkekeh di samping telinga masing-masing.

“Are you happy?”
“What? Of course I am!!! Kenapa?”
“Cuma Tanya, takut kamu nggak happy dengan keadaan begini.”
Happy sih happy, Cuma sedikit gundah aja…”

          Terpegang-memegang perut mulus itu. Mengelus-dielusnya perut itu. Sambil menerka apa yg akan teradi dan apa yg akan dihadapi. Membayang-terbayang hal-hal yg indah bahkan yg tidak-tidak.

“Seperti apa yah kalau besar nanti?”
“Who know? Nobody knows!”
“Don’t ever leave me, Dear…”
“I won’t, but….. Aku juga nggak tau rencanaNya. Tuhan selalu punya rahasia akan beberapa lama waktu yg Ia berikan untuk menghidupi-memainkan ciptaanNya sendiri.”

          Pikirnya, waktu cepat bergulung, enggan mengulur. Akan tiba hari itu. “Hari Pengeluaran”, bisiknya dalam hati. Hari pengeluaran hasil satu dari seribu peluang. Hari dimana pengeluaran kehidupan baru.

          Dipeluknya dengan erat, kerasa takut kehilangan. Jari jemari saling menyilang dengan tertumpuknya kulit-kulit beda warna. Di atas tempat tidur yg nyaman, lampu temaram, alat pendingin menyala, meja berantakan, berjejal botol-botol bir terdiam-terbuka-menganga, sumpelan puntung rokok serta abu di sekeliling tepi meja, dan sofa? Entah masih pantaskah dibilang sebuah sofa atau bukan. Sedikit reyot, benang-benang keluar barisan, warna pudar, tidak empuk, serta tertumpuk-tumpuk baju yg tadi sedang dikenakan.

          Terekam suasana (yg memang) tidak kondusif. Tapi apalah arti? Semua terasa OK-OK saja. Bukan masalah apartement, tapi kita. Tentang semua kedekatan ini, tentang kakak tirinya, tentang ayah-ibunya.”Oh, bagaimana jika nanti ibu tahu?” Tanyanya selalu. Tentang kuliah yg masih belum tuntas karna tesis yg banyak revisi, tentang ini, tentang itu, tentang tujuh bulan yg akan datang, tentang hidup yg harus menghidupi si-kehidupan baru.

“Enstein?”
“Yup?”
“Frank-Enstein… Frankenstein!!! Nama yg bagus, bukan? Ayah Frank dan kamu Enstein. Di sini mengalir darah ayah dan kamu juga, kan?”
“Frankenstein? OK! Sounds good…”

          Didekapnya sang pacar kulit hitam manis, ibu dari calon babynya yg baru berusia dua bulan, yg tidak lain perempuan itu ialah adik tirinya sendiri. Enggan berinteraksi, hanya ingin berada di sisi. Sesekali dicium, sesekali diendusnya kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Entah bagaimana nanti? Perutnya mbelendung, bengkak terisi bekas dosa yg suci. Entahlah? Hari pengeluaran kira-kira tujuh bulan lagi membuat pikiran menjadi terbagi.

Aku kakak, kamu adik, lalu calon baby ini? Oh Frankenstein….. Oh Frankenstein…..  Dan ooooohhh Frankenstein, hasil karya dari uh-oh uh-oh malam itu.




@vidhakiky...