Sesekali dicium,
sesekali diendusnya kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Begitu
menggoda, sosok badan dengan lekuk tubuh yang lumayan membuat rusuk getir menolak menjauh. Jantungnya berdebar
dengan detak yg tak seirama. Pinggang kecil, dada OK, punggung mulus seksi,
walau kaki tidak terlalu jenjang dan perut yg tidak terlalu rata, yah lumayan lah.
Berdua
berdekatan, enggan berinteraksi, hanya saja ingin berada di sisi. Bermain jari
kaki, ditekuk melekuk kakinya dengan kaki sang pacar, lalu diluruskan kembali,
ditekuk melekuk lalu diluruskan kembali, dan begitu seterusnya. Ditambah dengan
tawa-tawa kecil yg terkekeh di samping telinga masing-masing.
“Are you happy?”
“What? Of course I
am!!! Kenapa?”
“Cuma Tanya, takut
kamu nggak happy dengan keadaan
begini.”
“Happy sih happy, Cuma sedikit gundah aja…”
Terpegang-memegang perut mulus itu. Mengelus-dielusnya
perut itu. Sambil menerka apa yg akan teradi dan apa yg akan dihadapi. Membayang-terbayang
hal-hal yg indah bahkan yg tidak-tidak.
“Seperti apa yah
kalau besar nanti?”
“Who know? Nobody knows!”
“Don’t ever leave
me, Dear…”
“I won’t, but….. Aku
juga nggak tau rencanaNya. Tuhan selalu punya rahasia akan beberapa lama waktu
yg Ia berikan untuk menghidupi-memainkan ciptaanNya sendiri.”
Pikirnya, waktu cepat bergulung,
enggan mengulur. Akan tiba hari itu. “Hari Pengeluaran”, bisiknya dalam hati. Hari
pengeluaran hasil satu dari seribu peluang. Hari dimana pengeluaran kehidupan
baru.
Dipeluknya dengan erat, kerasa takut
kehilangan. Jari jemari saling menyilang dengan tertumpuknya kulit-kulit beda
warna. Di atas tempat tidur yg nyaman, lampu temaram, alat pendingin menyala,
meja berantakan, berjejal botol-botol bir terdiam-terbuka-menganga, sumpelan
puntung rokok serta abu di sekeliling tepi meja, dan sofa? Entah masih
pantaskah dibilang sebuah sofa atau bukan. Sedikit reyot, benang-benang keluar barisan, warna pudar, tidak empuk,
serta tertumpuk-tumpuk baju yg tadi sedang dikenakan.
Terekam suasana (yg memang) tidak
kondusif. Tapi apalah arti? Semua terasa OK-OK saja. Bukan masalah apartement,
tapi kita. Tentang semua kedekatan ini, tentang kakak tirinya, tentang ayah-ibunya.”Oh,
bagaimana jika nanti ibu tahu?” Tanyanya selalu. Tentang kuliah yg masih belum
tuntas karna tesis yg banyak revisi, tentang ini, tentang itu, tentang tujuh
bulan yg akan datang, tentang hidup yg harus menghidupi si-kehidupan baru.
“Enstein?”
“Yup?”
“Frank-Enstein…
Frankenstein!!! Nama yg bagus, bukan? Ayah Frank dan kamu Enstein. Di sini
mengalir darah ayah dan kamu juga, kan ?”
“Frankenstein? OK!
Sounds good…”
Didekapnya sang pacar kulit hitam
manis, ibu dari calon babynya yg baru
berusia dua bulan, yg tidak lain perempuan itu ialah adik tirinya sendiri. Enggan
berinteraksi, hanya ingin berada di sisi. Sesekali dicium, sesekali diendusnya
kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Entah bagaimana nanti? Perutnya
mbelendung, bengkak terisi bekas dosa
yg suci. Entahlah? Hari pengeluaran kira-kira tujuh bulan lagi membuat pikiran
menjadi terbagi.
Aku
kakak, kamu adik, lalu calon baby
ini? Oh Frankenstein….. Oh Frankenstein….. Dan ooooohhh Frankenstein, hasil karya dari
uh-oh uh-oh malam itu.
@vidhakiky...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar