Aku
sang penjelajah, dengan sepiring pesawat terbang luar angkasa yg mengitari tata
surya. Jauh sebelum itu, aku hanyalah manusia biasa yg bertempat tinggal di
Bumi. Entahlah, Bumi hampir reyot termakan waktu dan kesombongan manusia
lainnya. Aku menjauhinya hanya untuk mencari planet-planet baru yg bisa
kusinggahi dan kutinggali dengan aman.
Sudah
lama, yah lama sekali, seberapa waktu tahun cahaya pun aku lupa. Tak sengaja aku
memijakkan kakiku diatas Planet Kebutuhan yg bernama Bennington . Ben lebih tepatnya biasa
kupanggil. Ben, planetya penuh kenyamanan, teduh, dan berbagai rasa yg aku
butuhkan selalu ada disana. Planet Kebutuhan yg Ben ciptakan begitu damai
dengan hamparan rumput menghijau, lalu diakhiri dengan jatuhan butiran-butiran
air jernih seperti air terjun mungil mengairi sungai-sungai kecil. Pagi yg selalu
cerah dengan pandangan Matahari yg masih malu-malu memunculkan sinarnya, yg memang
lebih dekat dan lebih indah dibandingkan dengan Bumi. Siang pun tak terlalu
panas menyengat, senja yg begitu hangat dengan gradasi warna yg menarik
perhatian, petang yg mulai mengeluarkan hawa dingin dengan langit kelabu, lalu
diakhiri malam yg bertabur ribuan rasi bintang menghiasinya. Aku sempat berpikir,
inikah surga? Jika iya, beruntunglah aku bisa menapaki kaki di planet ini.
Hanya Tuhan yg tahu sebagaimana bahagianya aku tinggal disini. Jauh dari hiruk
pikuk kekacauan ibukota di Bumi. Jauh dari keserakahan akan merebut-rebut mimpi
dan kekayaan. Disini aku merasa kaya, kaya akan rasa yg entahlah tak bisa
kusebutkan dan kugambarkan secara detil maksud perasaanku.
Aku
sudah lama mengenal Ben. Bisa kubilang, Ben sahabat terbaikku. Tiadalah jemu
jika aku bermain seharian tanpa lelah di atas planetnya. Ben pun tak pernah
keberatan, jika aku sesekali bosan, terbang dan mencari planet baru yg mungkin
lebih baik darinya. Walau akhirnya, planet Ben lah masih jadi yg terbaik.
“Diantara
pagi, siang dan malam, mengapa senyummu selalu merekah pada saat senja?” Tanya
Ben kepadaku.
“Aku
suka Orange , dan saat senja itulah Matahari menunjukan
warna kesukaanku.”
“Lalu,
bagaimana dengan malam? Mengapa begitu sendu, lalu berganti pagi yg begitu
merindu?” Ben keheranan.
“Malam
begitu hitam bagiku, saatnya bermuram durja, lalu pagi begitu merindu, saat aku
merindukan senja setelah Matahari menerbitkan sinarnya.” Jawabku antusias.
Suatu
malam, disaat aku tidur terlelap dan terbangun dengan sadar karna
guncangan-guncangan kecil yg berasal dari kekehan tawa Ben yg entahlah dia
sedang berbicara dengan siapa? Karna yg kutahu, Ben hanya sendiri. Kejadian ini
hampir berulang-ulang dan membuat tidur malamku kian tak nyenyak. Esok paginya
aku memberanikan diri bertanya pada Ben.
“Apa
yg kamu kerjakan di hampir setiap malam hingga dini hari, Ben?”
“Apa
maksudmu?” Jawab Ben heran.
“Hampir
setiap malam tidurku tak nyenyak, planetmu selalu berguncang tawa dengan suara
kekehanmu itu!” Jelasku.
“Oh
itu maksudmu… Hahahahaha… Hahahahaha…”
“Ada yg lucu dengan
pertanyaaku, Ben?”
“Ah
tidak… Hahahahaha… Hahahahaha…”
“Lantas,
mengapa kamu tertawa?”
“Ah
tidak, lupakan saja. Maaf jika aku mengganggu tidurmu. Aku hanya bermonolog
dengan diriku sendiri.” Jelasnya.
Waktu
kian berlalu. Lama-lama aku semakin tak nyaman dengan keadaan malam yg
mengganggu tidurku. Entahlah, pikiranku kacau. Apa benar Ben sedang bermonolog
dengan dirinya sendiri? Atau ada seorang yg lain, yg sengaja tinggal di planetnya
tanpa sepengetahuanku? Atau jangan-jangan dia sudah punya teman dekat lain,
selain aku? Ya Tuhan, pikiranku kacau saat itu. Lalu kuputuskan untuk bermalam
di Pesawat Piring Terbangku, walaupun tempatnya tidak seluas planet Ben. Ada waktu dimana aku tetap
terjaga di malamku. Aku banyak pikiran, semakin kupikirkan, semakin kusut
pikiranku. Aku mencoba menyalakan mesin pesawatku dan mengelilingi tata surya. Sepi,
semuanya mungkin sedang beristirahat, kecuali Bulan yg memang selalu bekerja
malam berganti paruh waktu dengan Matahari. “Ah sepi sekali, tak ada yg
menghibur!” Pikirku. Lalu aku memutar balik arah dan kembali ke tempatku yg
semula.
Setibanya
disana, aku melihat Ben sedang bercakap dengan planet lain, yg tak pernah ku
kenal sebelumnya. Aku memperhatikan mereka diam-diam. Sepertinya pembicaraan
mereka seru sekali, ada gelak tawa yg disisipkan ditengah perbincangan serius.
Suara Ben dan planet itu masih terdengar samar. Topik apa yg sedang mereka
bicarakan? Aku ingin sekali mendekatkan pesawatku ke arah mereka, tapi takut
ketahuan. Biarlah kusaksikan dari sini saja. Hal ini berkelanjutan pada
malam-malam selanjutnya.
Esok
pagi, ketika aku menapakkan kembali kakiku ke planet Ben. Ben menyapaku
bersahabat. “Bagaimana tidurmu semalam?” Tanyanya. Kujawab “Cukup baik”. Tak
ada yg aneh dengan tingkah Ben pagi ini. Aku menunggu ia menceritakan tentang
teman barunya, namun tak ada sepatah kata pun yg menyinggung tentang itu dalam
pembicaraan kami.
“Ben…?”
“Ya…
Ada apa?”
“Sesungguhnya
semalam aku tak terlelap, terjaga sampai pagi. Aku mengitari tata surya, tapi
semua sepi-beristirahat. Ketika jalanku menuju pulang, aku tak sengaja memergokimu
sedang berbicara dengan planet baru yg sesungguhya belum pernah ku kenal
sebelumnya. Siapa dia?”
“Dia?...
Ah apa maksudmu?” Jawab Ben tidak mengakui.
“Yg
semalam berbicara denganmu itu… Aku sudah tahu, sebenarnya hampir setiap malam aku
tahu kamu bukan bermonolog, tapi berdialog dengan planet baru itu. Mengapa
tidak pernah menceritakan tentang dia, padaku?”
“Oh…
Hmmmmm… Aku… Dia… Aku bingung harus mulai menceritakannya darimana?”
“Ceritakanlah dari hal yg menurutmu nyaman, Ben.” Pintaku.
“Baiklah…
Dia saudara kembarku, dia itu Planet Keinginan. Namanya Ellington, aku biasa
memanggilnya Ell… Mengapa aku tidak pernah menceritakan tentangnya kepadamu,
karna aku takut… Aku takut kamu berpaling dan tak kembali ke planetku… Aku
butuh kamu yg menjadi manusia di planetku. Hanya kamu…”
“Ben,
aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu planet yg pertama kusinggahi setelah
lelah berkeliling tata surya. Kamu yg ternyaman buatku. Parcayalah, aku ini
milikmu, dan kamu milikku.”
Setelah
panjang lebar menceritakan tertang Planet Keinginan, Ellington. Ben pun
akhirnya menyetujui untuk memperkenalkanku pada Ell. Sehari setelahnya aku
mengunjungi Ell, dan berkenalan. Tak kusangka, Ell begitu mengenalku walau
hanya lewat pembicaraan malam dengan Ben. Ell, betul-betul ramah, karakter planetnya
pun tak jauh berbeda dengan Ben, hanya saja Ell lebih menyuguhkan warna dan
mimpi-mimpi baru dalam hidup. Ell, selalu menciptakan planetnya penuh harapan,
penuh mimpi akan kebahagiaan. Hal ini yg memang tidak ada di planet Ben.
Hampir
setiap pagi aku mengunjungi Ell, untuk memulai bermimpi pagi. Rasanya indah
mempunyai mimpi. Dan Ell pintar menyuguhkan harap dan mimpi kemudian
dijadikannya nyata. Mungkin karna itu pula planet Ell disebut Planet
Keinginan. Apa yg kita inginkan ada disisni. Tanpa terkecuali. Aku merasa
menjadi lebih dari sekedar hidup jika sedang bersama Ell. Namun sesuai janjiku,
aku akan tetap menjadi manusia bagi Ben. Karna itu, jika setiap pagi aku mengunjungi
Ell, setiap senja pun aku selalu pulang untuk menemui Ben.
Pada
satu senja, ketika aku menyalakan mesin pesawatku untuk pulang, tiba-tiba Ell
memintaku menemaninya lebih lama. “Menikmati senja di tempatku akanlah lebih
indah, maka menetaplah sebentar lagi.” Pinta Ell. Aku yg memang menyukai senja
pun menurut. Ya Tuhan, senja dengan mimpi dan harap di planet Ell, sungguhlah
indah, ah, sangat indah tepatnya. Rasanya seperti terbang tanpa sayap, terbalut
warna yg memikat hati. “Kamu tidak bohong, Ell. Senjamu sungguh lebih indah dibanding
tempat Ben!” Tuturku.
“Tinggallah
bersamaku, di planetku, banyak keinginanmu disini yg bisa aku kabulkan, banyak
mimpi-mimpimu disini yg tentunya bisa kamu raih, jika kamu ingin tinggal
bersamaku. Aku sudah mengenalmu dalam, ketika Ben selalu menceritakan tentangmu
disetiap malamnya. Aku menginginkamu menjadi manusia yg tinggal di planetku.
Menetaplah…” Ajak Ell.
“Aku…
Aku… Aku… Aku sungguh ingin, tapi bagaimana dengan Ben?... Aku tidak bisa
menghianatinya, apalagi berpaling kepadamu. Sesungguhnya planetmu adalah planet
yg kuingin tinggali sejak dulu, Ell. Karna planetmu menyuguhkan keinginan mimpi indah bahkan harap pun menjadi nyata. Tapi………”
“Menetaplah
disini… Soal Ben, nanti akan jadi urusan kami kemudian…”
Aku
yg terbujuk rayu oleh Ell, membiarkan senja, petang, malam dan pagi mengalir
begitu saja. Aku lupa waktu pulang, aku lupa tempatku pulang. Ell telah pandai
menaklukanku secepat itu. Hingga akhirnya aku tersadar dari tidur siangku, planet
Ell berguncang hebat, hebat sekali, seperti gempa pada Bumi. Suara suara keras
memekakan telinga. Astaga! Itu suara Ben! Aku melindungi diriku dengan masuk ke
pesawat, menyalakan mesin dan kabur mengelilingi tata surya. Sampai saat waktu
berlalu lama, aku memutuskan kembali pulang, namun Ben dan Ell malah semakin
bertengkar. Suara-suara planet-planet bertabrakan-berbenturan.
“DIMANA
MANUSIAKU?” Teriak Ben begitu marah.
“Apa?
Manusiamu? Dia memutuskan untuk menetap di planetku.”
“KEMBALIKAN
MANUSIAKU! DIA MILIKKU!” Bentak Ben.
“Dia,
yg kamu bilang manusiamu itu, lebih memilihku, Ben. Sudahlah, serahkan dia
kepadaku. Di planetku banyak keinginan dan mimpinya yg bisa ku penuhi. Sedang
kamu? Apa masih bisa mermimpi? Apa berani?” Jawan Ell sombong.
“Planetku
memang bukan sang pemimpi dan menuruti keinginannya, tapi aku adalah Planet
Kebutuhan. Apapun yg dia butuhkan, akan aku sediakan. Mimpimu hanyalah belaka,
Ell. Jangan terlalu sombong.” Tukas Ben kesal.
“Hahahahaha
dia lebih menginginkanku, dibanding membutuhkanmu, Ben! Kamu harus sadar itu.
Aku mempunyai senja yg lebih indah dari yg kamu punya. Dan dia pasti lebih
menyukai senjaku. Hahahahahaha…”
“SUDAH
DIIIIIAAAAAAAAM KALIAN BERDUA!” kataku memotong pembicaraan sambil menunjuk
kearah dua planet ini. “APA KALIAN TIDAK BISA AKUR SAJA? Ben itu kebutuhanku.
Ell itu keinginanku. Bisakah kalian berjalan bersamaan? Tidak bertengkar
seperti ini. Aku akan berada di planet kalian jika kalian tetap bersama. Ingat,
kalian itu saudara kembar.” Jelasku
“Ah
tidak mungkin, Ell selalu mengambil manusia yg selalu membutuhkan aku dengan
diiming-imingi keinginan olehnya!” Jawab Ben.
“Apa?
Dan Ben juga selalu menjadi kebutuhan, jika manusiaku lupa dengan namanya
keinginan.” Jawab Ell.
“Sudahlah,
aku lelah, kali ini kalian bertengkar begitu hebat mengganggu tidur siangku,
sedang saat lalu, malamnya terkekeh bersenda gurau mengganggu tidur malamku.
Aku tidak bisa memastikan mana yg harus aku pilih diantara kalian. Planet
Kebutuhan seperti Ben, atau Planet Keinginan seperti Ell? Aku memutuskan untuk
tetap tinggal di Pesawat Piring Terbangku yg hampir bobrok sementara waktu, sesampai akhirnya aku menemukan jawaban kepada siapa aku akan memijakkan kaki dan
hidupku, serta menjadi manusiamu, selamanya.”
Aku
menyalakan mesin, terbang mengitari-mengelilingi tata surya tanpa arah. Apa ini
semua salahku? Bagaimana jika dulu aku tetap tinggal di Bumi, pasti aku takkan
melihat dua planet ini bertengkar-berbenturan. Aku menangis meringkuk dengan
tangan memeluk kaki, menangis sampai melupakan pagi, siang, senja, petang,
bahkan malam, dan begitu seterusnya, menghabisi waktu dengan air mata yg tak
pernah habis ditangisi. Aku tak tahu jalan pulang menuju Bumi. Aku tak tahu arah
mana yg harus kupilh antara kebutuhan dan keinginan. Bennington adalah sesungguhnya
kebutuhanku, tapi Ellington memang sebenarnya keinginanku.
Entahlah,
apa planet itu tetap bertengkar memperebutkanku? Sedang pikiranku pun
bertengkar memperebutkan mereka. Aku, perasaanku, dan hidupku jatuh setengah
mati, melewati hari tanpa keputusan yg pasti, sampai akhirnya aku tenggelam dan
mati ditengah hamparan rasi bintang dan tata surya milikNya, mengembuskan nafas
terakhir, ketika warna senja yg paling indah memikat hati, diatas bangku pengendara di Pesawat Piring Terbangku.
**Ada dua hal yg tidak bisa kita pilih secara bersamaan. Antara "Kebutuhan" atau "Keinginan", mereka 2 hal yg berbeda. Maka, beruntunglah kamu, jika memiliki keduanya.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar