Satu hari, aku begitu merindu, menyentuhmu. Sudah sebulan terakhir ini Kirana sibuk. Aku tidak manja, aku hanya meminta waktu sedikit saja untuk bercengkrama bercumbu mesra, tapi Kirana sering menolak. Ia terlalu serius dengan segala urusannya. Kirana kerja? Oh tidak, jangankan bekerja, merapihkan tempat tidur dan mencuci piring saja kesulitan, Kirana memang tak biasa bekerja. Entahlah, Kirana merasa akhir-akhir ini tubuh dah wajahnya kurang menarik dipandang khalayak. Banyak perawatan sana-sini yg Ia lakukan. Padahal Ia sudah sempurna di mataku. Tapi mengapa ada sesuatu hal yg menurutnya selalu kurang. Atau mungkin itu hanya alasannya saja supaya sering pergi keluar rumah dan lupa memperhatikan aku.
Kirana,
kekasihku. tubuhnya mungil hingga selalu muat dalam dekap pelukan utuh saat ku
rindu. Lesung pipinya pun membuatku tenggelam di dalamnya, saat tertawa. Rambut
ikalnya panjang, selalu ku belai di hampir setiap malam. Serta kukunya yg kecil
itu, bercat warna warni cerah, yg terkadang warnanya merah menyala merekah.
Kirana adalah hidupku saat itu. Ia bisa membuatku lebih menikmati satu waktu ke
waktu saat bersamanya. Perempuan yg cerdas, bisa membuatku gila jika tanpanya.
Sebelumnya,
aku sangat bahagia. Oh, tidak seharusnya aku menyebutkan subyek itu sebagai
“Aku”, tetapi “Kita”. Kita bersama sudah cukup lama. Tertawa, berdansa, menari,
berlari, menangis, hingga menit berlau pun kita tertidur bersama waktu. Hampir
semua hal kita rasakan bersama-sama. Bahagia, sedih, lucu, rasa ingin selalu
memiliki, rasa birahi yg cukup tinggi, serta rasa-rasa yg lainnya. Tapi mengapa
hanya aku yg menjadi sosok pencemburu, sayang? Mengapa hanya aku?
Waktu yg kuminta tidak banyak. Bahkan
waktu yg sebentar pun hampir tak pernah Kirana berikan. Apa Kirana membenciku
dengan keadaan ini? Atau rasa cintanya sudah luntur termakan waktu? Aku sungguh
tak mengerti. Lalu kita apa, jika tak pernah bersama lagi? Rasanya duniaku hampir
lumpuh. Kirana tak pernah mau kusentuh ataupun berbicara padaku lagi. Hal hebat
apa yg membuatnya berubah seperti itu? Seluruh pikiranku tercecer di sepanjang
jalan menuju rumah, memikirkan hal ini. Hingga akhirnya aku tak tahan.
Kirana saat itu sampai di rumah pukul
11 malam. Tanpa tanya basa-basi, aku langsung memeluknya penuh rindu dan
mendaratkan kecupan-kecupan hangat di bibirnya. Namun Kirana melepasnya sambil
menggertak “Apa-apaan ini? Kamu memaksaku bercinta lagi? Ah aku gak mau!!!”.
Tapi aku tetap tak peduli, aku ingin mendekapnya lagi dan lagi. Kirana sangat
marah saat itu, marah sekali. Lalu berlari menangis menuju ujung tempat tidur.
Setelahnya, kita bertengkar hebat tentang perbadaan sikapnya selama ini.
Emosiku tak tebendung, seperti ada yg berbisik di telingaku “Ambil saja di laci
itu!”. Aku yg hilang kontrol pun mengambilnya. Kita saling berebut senjata.
Kirana lebih dulu menarik pelatuk ke arahku. “DOR!”. Pandanganku langsung
kabur, aku merebutnya kembali hingga melepaskan peluru panas yg kedua itu tepat
di pelipis kanan Kirana.
Ya
Tuhan, apa yg sedang kita lakukan? Apakah ini yg namanya saling mencinta hingga
akhirnya saling menghilangkan nyawa? Kirana, kekasihku, Ia terlelap diatas
pangkuan yg penuh darah berjatuhan. Rasa sakit di mataku tak kalah hebatnya
dari penyesalanku malam itu. Kamu yg kurasa adalah hidupku, kini aku melayangkan
hidupmu dengan tanganku sendiri. Aku tak bosan-bosannya memanggil rohmu kembali
memasuki jasadmu. Tapi apa daya, malaikat sudah menggandeng erat, membawamu
pada dunia barumu. Kini aku buta karna cemburu.
---
Aku
menghabiskan Minggu pagi ini dengan merapihkan tatanan letak kamar kita.
Foto-fotomu masih terpajang rapih di atas meja dekat sudut tempat tidur,
tempatmu menangis dulu,. Baju-bajumu pun masih apik tersimpan di lemari
pakaian. Sepatu, tas, kalung dan gelang kesayanganmu, serta barang-barangmu yg
lain pun tak pernah aku pindahkan dari posisi semula. Namun laci, laci dimana
tempat senjataku menghilangkan nyawamu dulu itu, aku tak pernah berani
menyentuhnya. Sampai hari ini, aku memberanikan diri untuk membukanya lagi. Kutemukan
buku kecil, buku catatan harianmu, Kirana. Aku menangis terjuntai diatas tanah
saat membaca isi di dalamnya. Maaf, Kirana sayang, aku terlambat menemukan
jawaban dari sikap dinginmu di dalam lembar pertengahan buku itu.
---
*** Hari ini
wanita itu mendatangiku lagi. Perempuan yg tak pernah menyetujui hubunganku
dengan Musa. Kali ini Ia mengajak Rasha untuk menemaninya. Sudah puluhan kali
wanita itu meminta aku memutuskan hubungan ini. Tapi aku tak sanggup. Musa
adalah lelaki hebat yg bisa membuatku terus merindu sepanjang waktu. Musa
sayang, aku tahu hubungan ini tak seharusnya kita jalani. Banyak pertentangan
yg menghakimi. Terlebih wanita itu dan Rasha. Aku juga tahu, Rasha itu
seutuhnya milikmu. Lalu aku? Siapa aku di hidupmu? Banyak waktu yg terbuang
percuma untukku mengakhiri hubungan ini, It’s terribly hard to leave you, Honey.
Sampai akhirnya aku sadar seperti tertampar. Aku terlalu mencintai ego dari diriku
sendiri. Ya betul, aku ini egois.
Jika aku benar
mencintaimu, tak seharusnya aku merebut kamu dari mereka. Baiklah, aku mungkin
akan membuat kamu membeciku, sayang. Aku akan hilang dari hidupmu setelah ini. Akan
ku kembalikan dirimu kepada yg berhak memilikimu. Aku pun sudah berjanji
membuat semuanya kembali berjalan normal dan utuh lagi. Sayang, Rasha begitu
cantik, saat kutemui tadi. Aku tidak tega telah merebutmu, ayah kandungnya
sendiri. Dan wanita itu, istrimu, seorang yg sabar dan tak bosan-bosannya
menunggumu pulang untuk membukakan pintu dengan rindu yg menggebu dalam
senyuman yg beradu. Pulanglah sayang, ke rumah yg benar-benar milikmu. Karna
aku akan pulang ke rumah pemilikku. TempatNya pasti sangat nyaman, di Rumah
Tuhan. Aku tetap mencintaimu dari sisi manapun. Suatu saat kamu akan menemukan
jawaban dari seribu pertanyaanmu itu dalam buku ini. Suatu saat, Musa.
- Kirana, Kekasihmu - ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar