Sabtu, 17 Agustus 2013

Kompleks Candi Dieng ( A Trip To Dieng #3 )




Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m.

Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Di kawasan Dieng ini ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 808 M, yang merupakan prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno, yang masih masih ada hingga saat ini. Sebuah Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan ini sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama yang berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai dengan perempat pertama abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca. Tahap kedua merupakan kelanjutan dari tahap pertama, yang berlangsung samapi sekitar tahun 780 M.

Candi Dieng terdiri atas 4 candi yang berderet memanjang arah utara-selatan. Candi Arjuna berada di ujung selatan, kemudian berturut-turut ke arah utara adalah Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa. Tepat di depan Candi Arjuna, terdapat Candi Semar. Keempat candi di komples ini menghadap ke barat, kecuali Candi Semar yang menghadap ke Candi Arjuna. Kelompok candi ini dapat dikatakan yang paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng.


1. Candi Arjuna & Semar 

Candi Arjuna ini mirip dengan candi-candi di komples Gedong Sanga. Berdenah dasar persegi dengan luas sekitar ukuran sekitar 4 m2. Tubuh candi berdiri diatas batur setinggi sekitar 1 m. Di sisi barat terdapat tangga menuju pintu masuk ke ruangan kecil dalam tubuh candi. Pintu candi dilengkapi dengan semacam bilik penampil yang menjorok keluar sekitar 1 m dari tubuh candi. Di atas ambang pintu dihiasi dengan pahatan Kalamakara.
Candi Semar ini letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Denah dasarnya berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan. Batur candi setinggi sekitar 50 cm, polos tanpa hiasan. Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terdapat di sisi timur. Pintu masuk tidak dilengkapi bilik penampil. Ambang pintu diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan kepala naga di pangkalnya. Di atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang bawah.





2. Candi Srikandi

Candi Srikandi ini terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan bilik penampil. Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma. Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.



3. Candi Sembrada

Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Di pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang menjorok keluar, membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak di sisi barat dan, dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil di sisi barat dan relung di ketiga sisi lainnya membuat bentuk tubuh candi tampak seperti poligon. Di halaman terdapat batu yang ditata sebagai jalan setapak menuju pintu.
Sepintas Candi Sembadra terlihat seperti bangunan bertingkat, karena atapnya berbentuk kubus yang ukurannya hampir sama besar dengan ukuran tubuhnya. Puncak atap sudah hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca.



4. Candi Puntadewa

Seperti candi lainnya, ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m. Tangga menuju pintu masuk ke dalam ruang dalam tubuh candi dilengkapi pipi candi dan dibuat bersusun dua, sesuai dengan batur candi.
Ruang dalam tubuh candi sempit dan kosong. Di ketiga sisi lainnya terdapat jendela yang bingkainya diberi hiasan mirip dengan yang terdapat di pintu. Sekitar setengah meter di luar kaki candi terdapat batu yang disusun berkeliling memagari kaki candi. Di depan candi terdapat batu yang disusun berkeliling membentuk ruangan berbentuk bujur sangkar. Di tengah ruangan terdapat dua buah susunan tumpukan dua buah batu bulat yang puncaknya berujung runcing.



Keterangan diatas adalah pengenalan dari setiap candi candi yg ada di kompleks Candi Dieng. how wonderful, isn't it?

Dan setelah kece habis mandi, malam harinya gue dan yg lain jalan lagi menuju Candi yg disananya lagi digelar pewayangan sampai pagi. Pewayangan ini biasa digelar pada malam sebelum upacara Dieng Culture Festival keesokan harinya. Jujur, gue nggak ngerti bahasa Jawa sih, apalagi acara wayang-wayang-an begitu. Jadi ya selain nonton sebentar, kita coba kelilingin komplek Candi Arjuna nya dan foto-foto lagi. berikut hasil foto dari kamera gue, Ardhi @sobat_ardhi, Andi, Novi @noviariyani, Danial @badruzaman_ & yg lain.















Acara pergelaran wayang ini diadakan dari petang sampai esok pagi hari pagi atau dini hari. Nah, uniknya acara ini, di tengah-tengah acara pewayangan diselipkan acara kembang api yg dinyalakan tepat jam 12.00 malam untuk menandakan pergantian hari.


Setelah lelah berkeliling kompleks candi dan berfoto-foto ria, gue putuskan buat pulang dan balik ke Home Stay untuk istirahat, karna besok jadwalnya jam 3.00 dini hari udah siap-siap dan stand by buat hiking ke Puncak Sikunir untuk liat sunrise. Nah, di arah jalan pulang kearah Home Stay inilah banyak toko pembelian oleh-oleh dan souvenir. Banyak banget pilihan oleh-oleh dan souvenir di kawasan ini (Kawasan Candi Arjuna). 



Di Dieng, ada minuman khas yg bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh dalam bentuk kemasan instantnya, yaitu “Purwaceng”. Purwaceng ini adalah minuman penguat dan penambah energi bagi warga Dieng dan sekitarnya. Purwaceng ini dibuat dari bahan bahan alami dari tanaman menjalar khas Dieng dan kini Purwaceng instantnya pun bungkus dan rasanya sudah beraneka ragam, dari rasa Susu, Madu, Kopi, Gingseng, Jahe, dll.






Untuk makanan atau cemilan pun jangan khawatir, banyak juga pilihannya. Mulai dari Keripik Kentang khas Dieng, Kacang Dieng, Jamur Crispy, Pisang Sale, dan tentunya yg nggak ketinggalan dan harus dibeli kalo kesini yaitu manisan buah khas Dieng “Carica” yg bentuk buah, daun dan pohonnya mirip seperti Pepaya. Hanya saja Carica buahnya lebih kecil dan nggak sebesar papaya pada umumnya. Buah ini hanya dapat tumbuh di dataran tinggi Dieng. Makanya nih, gue insist banget buat beli manisan buah ini sebagai oleh-oleh sepulang ke rumah nanti. Berikut gambar dan foto dari Carica, Kentang Dineg dan cemilan atau keripik lainnya. 











Wah selesai juga cerita di Candi Dieng ini. Well, next place adalah Puncak Sikunir yg akan ditempuh besok jam 3.00 dini hari. So, read the others story of ‘A Trip To Dieng’. Hope you enjoy read this one. ..^_^.. 


                                                                                                                                                                                                   @vidhakiky

Tidak ada komentar:

Posting Komentar