Sabtu, 15 Desember 2012

Kirana



          Satu hari, aku begitu merindu, menyentuhmu. Sudah sebulan terakhir ini Kirana sibuk.  Aku tidak manja, aku hanya meminta waktu sedikit saja untuk bercengkrama bercumbu mesra, tapi Kirana sering menolak. Ia terlalu serius dengan segala urusannya. Kirana kerja? Oh tidak, jangankan bekerja, merapihkan tempat tidur dan mencuci piring saja kesulitan, Kirana memang tak biasa bekerja. Entahlah, Kirana merasa akhir-akhir ini tubuh dah wajahnya kurang menarik dipandang khalayak. Banyak perawatan sana-sini yg Ia lakukan. Padahal Ia sudah sempurna di mataku. Tapi mengapa ada sesuatu hal yg menurutnya selalu kurang. Atau mungkin itu hanya alasannya saja supaya sering pergi keluar rumah dan lupa memperhatikan aku.

Kirana, kekasihku. tubuhnya mungil hingga selalu muat dalam dekap pelukan utuh saat ku rindu. Lesung pipinya pun membuatku tenggelam di dalamnya, saat tertawa. Rambut ikalnya panjang, selalu ku belai di hampir setiap malam. Serta kukunya yg kecil itu, bercat warna warni cerah, yg terkadang warnanya merah menyala merekah. Kirana adalah hidupku saat itu. Ia bisa membuatku lebih menikmati satu waktu ke waktu saat bersamanya. Perempuan yg cerdas, bisa membuatku gila jika tanpanya.

Sebelumnya, aku sangat bahagia. Oh, tidak seharusnya aku menyebutkan subyek itu sebagai “Aku”, tetapi “Kita”. Kita bersama sudah cukup lama. Tertawa, berdansa, menari, berlari, menangis, hingga menit berlau pun kita tertidur bersama waktu. Hampir semua hal kita rasakan bersama-sama. Bahagia, sedih, lucu, rasa ingin selalu memiliki, rasa birahi yg cukup tinggi, serta rasa-rasa yg lainnya. Tapi mengapa hanya aku yg menjadi sosok pencemburu, sayang? Mengapa hanya aku?

          Waktu yg kuminta tidak banyak. Bahkan waktu yg sebentar pun hampir tak pernah Kirana berikan. Apa Kirana membenciku dengan keadaan ini? Atau rasa cintanya sudah luntur termakan waktu? Aku sungguh tak mengerti. Lalu kita apa, jika tak pernah bersama lagi? Rasanya duniaku hampir lumpuh. Kirana tak pernah mau kusentuh ataupun berbicara padaku lagi. Hal hebat apa yg membuatnya berubah seperti itu? Seluruh pikiranku tercecer di sepanjang jalan menuju rumah, memikirkan hal ini. Hingga akhirnya aku tak tahan.

          Kirana saat itu sampai di rumah pukul 11 malam. Tanpa tanya basa-basi, aku langsung memeluknya penuh rindu dan mendaratkan kecupan-kecupan hangat di bibirnya. Namun Kirana melepasnya sambil menggertak “Apa-apaan ini? Kamu memaksaku bercinta lagi? Ah aku gak mau!!!”. Tapi aku tetap tak peduli, aku ingin mendekapnya lagi dan lagi. Kirana sangat marah saat itu, marah sekali. Lalu berlari menangis menuju ujung tempat tidur. Setelahnya, kita bertengkar hebat tentang perbadaan sikapnya selama ini. Emosiku tak tebendung, seperti ada yg berbisik di telingaku “Ambil saja di laci itu!”. Aku yg hilang kontrol pun mengambilnya. Kita saling berebut senjata. Kirana lebih dulu menarik pelatuk ke arahku. “DOR!”. Pandanganku langsung kabur, aku merebutnya kembali hingga melepaskan peluru panas yg kedua itu tepat di pelipis kanan Kirana.

Ya Tuhan, apa yg sedang kita lakukan? Apakah ini yg namanya saling mencinta hingga akhirnya saling menghilangkan nyawa? Kirana, kekasihku, Ia terlelap diatas pangkuan yg penuh darah berjatuhan. Rasa sakit di mataku tak kalah hebatnya dari penyesalanku malam itu. Kamu yg kurasa adalah hidupku, kini aku melayangkan hidupmu dengan tanganku sendiri. Aku tak bosan-bosannya memanggil rohmu kembali memasuki jasadmu. Tapi apa daya, malaikat sudah menggandeng erat, membawamu pada dunia barumu. Kini aku buta karna cemburu.

                                      ---

Aku menghabiskan Minggu pagi ini dengan merapihkan tatanan letak kamar kita. Foto-fotomu masih terpajang rapih di atas meja dekat sudut tempat tidur, tempatmu menangis dulu,. Baju-bajumu pun masih apik tersimpan di lemari pakaian. Sepatu, tas, kalung dan gelang kesayanganmu, serta barang-barangmu yg lain pun tak pernah aku pindahkan dari posisi semula. Namun laci, laci dimana tempat senjataku menghilangkan nyawamu dulu itu, aku tak pernah berani menyentuhnya. Sampai hari ini, aku memberanikan diri untuk membukanya lagi. Kutemukan buku kecil, buku catatan harianmu, Kirana. Aku menangis terjuntai diatas tanah saat membaca isi di dalamnya. Maaf, Kirana sayang, aku terlambat menemukan jawaban dari sikap dinginmu di dalam lembar pertengahan buku itu.


                                                ---


*** Hari ini wanita itu mendatangiku lagi. Perempuan yg tak pernah menyetujui hubunganku dengan Musa. Kali ini Ia mengajak Rasha untuk menemaninya. Sudah puluhan kali wanita itu meminta aku memutuskan hubungan ini. Tapi aku tak sanggup. Musa adalah lelaki hebat yg bisa membuatku terus merindu sepanjang waktu. Musa sayang, aku tahu hubungan ini tak seharusnya kita jalani. Banyak pertentangan yg menghakimi. Terlebih wanita itu dan Rasha. Aku juga tahu, Rasha itu seutuhnya milikmu. Lalu aku? Siapa aku di hidupmu? Banyak waktu yg terbuang percuma untukku mengakhiri hubungan ini, It’s terribly hard to leave you, Honey. Sampai akhirnya aku sadar seperti tertampar. Aku terlalu mencintai ego dari diriku sendiri. Ya betul, aku ini egois.

Jika aku benar mencintaimu, tak seharusnya aku merebut kamu dari mereka. Baiklah, aku mungkin akan membuat kamu membeciku, sayang. Aku akan hilang dari hidupmu setelah ini. Akan ku kembalikan dirimu kepada yg berhak memilikimu. Aku pun sudah berjanji membuat semuanya kembali berjalan normal dan utuh lagi. Sayang, Rasha begitu cantik, saat kutemui tadi. Aku tidak tega telah merebutmu, ayah kandungnya sendiri. Dan wanita itu, istrimu, seorang yg sabar dan tak bosan-bosannya menunggumu pulang untuk membukakan pintu dengan rindu yg menggebu dalam senyuman yg beradu. Pulanglah sayang, ke rumah yg benar-benar milikmu. Karna aku akan pulang ke rumah pemilikku. TempatNya pasti sangat nyaman, di Rumah Tuhan. Aku tetap mencintaimu dari sisi manapun. Suatu saat kamu akan menemukan jawaban dari seribu pertanyaanmu itu dalam buku ini. Suatu saat, Musa.

                                                                  

- Kirana, Kekasihmu - ***

Minggu, 24 Juni 2012

Ellington and Bennington... (Di Antara Keinginan dan Kebutuhan)



        Aku sang penjelajah, dengan sepiring pesawat terbang luar angkasa yg mengitari tata surya. Jauh sebelum itu, aku hanyalah manusia biasa yg bertempat tinggal di Bumi. Entahlah, Bumi hampir reyot termakan waktu dan kesombongan manusia lainnya. Aku menjauhinya hanya untuk mencari planet-planet baru yg bisa kusinggahi dan kutinggali dengan aman.

        Sudah lama, yah lama sekali, seberapa waktu tahun cahaya pun aku lupa. Tak sengaja aku memijakkan kakiku diatas Planet Kebutuhan yg bernama Bennington. Ben lebih tepatnya biasa kupanggil. Ben, planetya penuh kenyamanan, teduh, dan berbagai rasa yg aku butuhkan selalu ada disana. Planet Kebutuhan yg Ben ciptakan begitu damai dengan hamparan rumput menghijau, lalu diakhiri dengan jatuhan butiran-butiran air jernih seperti air terjun mungil mengairi sungai-sungai kecil. Pagi yg selalu cerah dengan pandangan Matahari yg masih malu-malu memunculkan sinarnya, yg memang lebih dekat dan lebih indah dibandingkan dengan Bumi. Siang pun tak terlalu panas menyengat, senja yg begitu hangat dengan gradasi warna yg menarik perhatian, petang yg mulai mengeluarkan hawa dingin dengan langit kelabu, lalu diakhiri malam yg bertabur ribuan rasi bintang menghiasinya. Aku sempat berpikir, inikah surga? Jika iya, beruntunglah aku bisa menapaki kaki di planet ini. Hanya Tuhan yg tahu sebagaimana bahagianya aku tinggal disini. Jauh dari hiruk pikuk kekacauan ibukota di Bumi. Jauh dari keserakahan akan merebut-rebut mimpi dan kekayaan. Disini aku merasa kaya, kaya akan rasa yg entahlah tak bisa kusebutkan dan kugambarkan secara detil maksud perasaanku.

       Aku sudah lama mengenal Ben. Bisa kubilang, Ben sahabat terbaikku. Tiadalah jemu jika aku bermain seharian tanpa lelah di atas planetnya. Ben pun tak pernah keberatan, jika aku sesekali bosan, terbang dan mencari planet baru yg mungkin lebih baik darinya. Walau akhirnya, planet Ben lah masih jadi yg terbaik.

“Diantara pagi, siang dan malam, mengapa senyummu selalu merekah pada saat senja?” Tanya Ben kepadaku.

“Aku suka Orange, dan saat senja itulah Matahari menunjukan warna kesukaanku.”

“Lalu, bagaimana dengan malam? Mengapa begitu sendu, lalu berganti pagi yg begitu merindu?” Ben keheranan.

“Malam begitu hitam bagiku, saatnya bermuram durja, lalu pagi begitu merindu, saat aku merindukan senja setelah Matahari menerbitkan sinarnya.” Jawabku antusias.

        Suatu malam, disaat aku tidur terlelap dan terbangun dengan sadar karna guncangan-guncangan kecil yg berasal dari kekehan tawa Ben yg entahlah dia sedang berbicara dengan siapa? Karna yg kutahu, Ben hanya sendiri. Kejadian ini hampir berulang-ulang dan membuat tidur malamku kian tak nyenyak. Esok paginya aku memberanikan diri bertanya pada Ben.

“Apa yg kamu kerjakan di hampir setiap malam hingga dini hari, Ben?”

“Apa maksudmu?” Jawab Ben heran.

“Hampir setiap malam tidurku tak nyenyak, planetmu selalu berguncang tawa dengan suara kekehanmu itu!” Jelasku.

“Oh itu maksudmu… Hahahahaha… Hahahahaha…”

Ada yg lucu dengan pertanyaaku, Ben?”

“Ah tidak… Hahahahaha… Hahahahaha…”

“Lantas, mengapa kamu tertawa?”

“Ah tidak, lupakan saja. Maaf jika aku mengganggu tidurmu. Aku hanya bermonolog dengan diriku sendiri.” Jelasnya.

        Waktu kian berlalu. Lama-lama aku semakin tak nyaman dengan keadaan malam yg mengganggu tidurku. Entahlah, pikiranku kacau. Apa benar Ben sedang bermonolog dengan dirinya sendiri? Atau ada seorang yg lain, yg sengaja tinggal di planetnya tanpa sepengetahuanku? Atau jangan-jangan dia sudah punya teman dekat lain, selain aku? Ya Tuhan, pikiranku kacau saat itu. Lalu kuputuskan untuk bermalam di Pesawat Piring Terbangku, walaupun tempatnya tidak seluas planet Ben. Ada waktu dimana aku tetap terjaga di malamku. Aku banyak pikiran, semakin kupikirkan, semakin kusut pikiranku. Aku mencoba menyalakan mesin pesawatku dan mengelilingi tata surya. Sepi, semuanya mungkin sedang beristirahat, kecuali Bulan yg memang selalu bekerja malam berganti paruh waktu dengan Matahari. “Ah sepi sekali, tak ada yg menghibur!” Pikirku. Lalu aku memutar balik arah dan kembali ke tempatku yg semula.

        Setibanya disana, aku melihat Ben sedang bercakap dengan planet lain, yg tak pernah ku kenal sebelumnya. Aku memperhatikan mereka diam-diam. Sepertinya pembicaraan mereka seru sekali, ada gelak tawa yg disisipkan ditengah perbincangan serius. Suara Ben dan planet itu masih terdengar samar. Topik apa yg sedang mereka bicarakan? Aku ingin sekali mendekatkan pesawatku ke arah mereka, tapi takut ketahuan. Biarlah kusaksikan dari sini saja. Hal ini berkelanjutan pada malam-malam selanjutnya.

        Esok pagi, ketika aku menapakkan kembali kakiku ke planet Ben. Ben menyapaku bersahabat. “Bagaimana tidurmu semalam?” Tanyanya. Kujawab “Cukup baik”. Tak ada yg aneh dengan tingkah Ben pagi ini. Aku menunggu ia menceritakan tentang teman barunya, namun tak ada sepatah kata pun yg menyinggung tentang itu dalam pembicaraan kami.

“Ben…?”

“Ya… Ada apa?”

“Sesungguhnya semalam aku tak terlelap, terjaga sampai pagi. Aku mengitari tata surya, tapi semua sepi-beristirahat. Ketika jalanku menuju pulang, aku tak sengaja memergokimu sedang berbicara dengan planet baru yg sesungguhya belum pernah ku kenal sebelumnya. Siapa dia?”

“Dia?... Ah apa maksudmu?” Jawab Ben tidak mengakui.

“Yg semalam berbicara denganmu itu… Aku sudah tahu, sebenarnya hampir setiap malam aku tahu kamu bukan bermonolog, tapi berdialog dengan planet baru itu. Mengapa tidak pernah menceritakan tentang dia, padaku?”

“Oh… Hmmmmm… Aku… Dia… Aku bingung harus mulai menceritakannya darimana?”

“Ceritakanlah dari hal yg menurutmu nyaman, Ben.” Pintaku.

“Baiklah… Dia saudara kembarku, dia itu Planet Keinginan. Namanya Ellington, aku biasa memanggilnya Ell… Mengapa aku tidak pernah menceritakan tentangnya kepadamu, karna aku takut… Aku takut kamu berpaling dan tak kembali ke planetku… Aku butuh kamu yg menjadi manusia di planetku. Hanya kamu…”

“Ben, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu planet yg pertama kusinggahi setelah lelah berkeliling tata surya. Kamu yg ternyaman buatku. Parcayalah, aku ini milikmu, dan kamu milikku.”

        Setelah panjang lebar menceritakan tertang Planet Keinginan, Ellington. Ben pun akhirnya menyetujui untuk memperkenalkanku pada Ell. Sehari setelahnya aku mengunjungi Ell, dan berkenalan. Tak kusangka, Ell begitu mengenalku walau hanya lewat pembicaraan malam dengan Ben. Ell, betul-betul ramah, karakter planetnya pun tak jauh berbeda dengan Ben, hanya saja Ell lebih menyuguhkan warna dan mimpi-mimpi baru dalam hidup. Ell, selalu menciptakan planetnya penuh harapan, penuh mimpi akan kebahagiaan. Hal ini yg memang tidak ada di planet Ben.

        Hampir setiap pagi aku mengunjungi Ell, untuk memulai bermimpi pagi. Rasanya indah mempunyai mimpi. Dan Ell pintar menyuguhkan harap dan mimpi kemudian dijadikannya nyata. Mungkin karna itu pula planet Ell disebut Planet Keinginan. Apa yg kita inginkan ada disisni. Tanpa terkecuali. Aku merasa menjadi lebih dari sekedar hidup jika sedang bersama Ell. Namun sesuai janjiku, aku akan tetap menjadi manusia bagi Ben. Karna itu, jika setiap pagi aku mengunjungi Ell, setiap senja pun aku selalu pulang untuk menemui Ben.

        Pada satu senja, ketika aku menyalakan mesin pesawatku untuk pulang, tiba-tiba Ell memintaku menemaninya lebih lama. “Menikmati senja di tempatku akanlah lebih indah, maka menetaplah sebentar lagi.” Pinta Ell. Aku yg memang menyukai senja pun menurut. Ya Tuhan, senja dengan mimpi dan harap di planet Ell, sungguhlah indah, ah, sangat indah tepatnya. Rasanya seperti terbang tanpa sayap, terbalut warna yg memikat hati. “Kamu tidak bohong, Ell. Senjamu sungguh lebih indah dibanding tempat Ben!” Tuturku.

        Ada apa di planet Ell, sehingga membuat kakiku enggan berpijak pulang. Aku sungguh ingin tinggal di planet ini. Tapi bagaimana, Ben? Aku sudah keburu janji kepadanya.

“Tinggallah bersamaku, di planetku, banyak keinginanmu disini yg bisa aku kabulkan, banyak mimpi-mimpimu disini yg tentunya bisa kamu raih, jika kamu ingin tinggal bersamaku. Aku sudah mengenalmu dalam, ketika Ben selalu menceritakan tentangmu disetiap malamnya. Aku menginginkamu menjadi manusia yg tinggal di planetku. Menetaplah…” Ajak Ell.

“Aku… Aku… Aku… Aku sungguh ingin, tapi bagaimana dengan Ben?... Aku tidak bisa menghianatinya, apalagi berpaling kepadamu. Sesungguhnya planetmu adalah planet yg kuingin tinggali sejak dulu, Ell. Karna planetmu menyuguhkan keinginan mimpi indah bahkan harap pun menjadi nyata. Tapi………”

“Menetaplah disini… Soal Ben, nanti akan jadi urusan kami kemudian…”

        Aku yg terbujuk rayu oleh Ell, membiarkan senja, petang, malam dan pagi mengalir begitu saja. Aku lupa waktu pulang, aku lupa tempatku pulang. Ell telah pandai menaklukanku secepat itu. Hingga akhirnya aku tersadar dari tidur siangku, planet Ell berguncang hebat, hebat sekali, seperti gempa pada Bumi. Suara suara keras memekakan telinga. Astaga! Itu suara Ben! Aku melindungi diriku dengan masuk ke pesawat, menyalakan mesin dan kabur mengelilingi tata surya. Sampai saat waktu berlalu lama, aku memutuskan kembali pulang, namun Ben dan Ell malah semakin bertengkar. Suara-suara planet-planet bertabrakan-berbenturan.

“DIMANA MANUSIAKU?” Teriak Ben begitu marah.

“Apa? Manusiamu? Dia memutuskan untuk menetap di planetku.”

“KEMBALIKAN MANUSIAKU! DIA MILIKKU!” Bentak Ben.

“Dia, yg kamu bilang manusiamu itu, lebih memilihku, Ben. Sudahlah, serahkan dia kepadaku. Di planetku banyak keinginan dan mimpinya yg bisa ku penuhi. Sedang kamu? Apa masih bisa mermimpi? Apa berani?” Jawan Ell sombong.

“Planetku memang bukan sang pemimpi dan menuruti keinginannya, tapi aku adalah Planet Kebutuhan. Apapun yg dia butuhkan, akan aku sediakan. Mimpimu hanyalah belaka, Ell. Jangan terlalu sombong.” Tukas Ben kesal.

“Hahahahaha dia lebih menginginkanku, dibanding membutuhkanmu, Ben! Kamu harus sadar itu. Aku mempunyai senja yg lebih indah dari yg kamu punya. Dan dia pasti lebih menyukai senjaku. Hahahahahaha…”

“SUDAH DIIIIIAAAAAAAAM KALIAN BERDUA!” kataku memotong pembicaraan sambil menunjuk kearah dua planet ini. “APA KALIAN TIDAK BISA AKUR SAJA? Ben itu kebutuhanku. Ell itu keinginanku. Bisakah kalian berjalan bersamaan? Tidak bertengkar seperti ini. Aku akan berada di planet kalian jika kalian tetap bersama. Ingat, kalian itu saudara kembar.” Jelasku

“Ah tidak mungkin, Ell selalu mengambil manusia yg selalu membutuhkan aku dengan diiming-imingi keinginan olehnya!” Jawab Ben.

“Apa? Dan Ben juga selalu menjadi kebutuhan, jika manusiaku lupa dengan namanya keinginan.” Jawab Ell.

“Sudahlah, aku lelah, kali ini kalian bertengkar begitu hebat mengganggu tidur siangku, sedang saat lalu, malamnya terkekeh bersenda gurau mengganggu tidur malamku. Aku tidak bisa memastikan mana yg harus aku pilih diantara kalian. Planet Kebutuhan seperti Ben, atau Planet Keinginan seperti Ell? Aku memutuskan untuk tetap tinggal di Pesawat Piring Terbangku yg hampir bobrok sementara waktu, sesampai akhirnya aku menemukan jawaban kepada siapa aku akan memijakkan kaki dan hidupku, serta menjadi manusiamu, selamanya.”

        Aku menyalakan mesin, terbang mengitari-mengelilingi tata surya tanpa arah. Apa ini semua salahku? Bagaimana jika dulu aku tetap tinggal di Bumi, pasti aku takkan melihat dua planet ini bertengkar-berbenturan. Aku menangis meringkuk dengan tangan memeluk kaki, menangis sampai melupakan pagi, siang, senja, petang, bahkan malam, dan begitu seterusnya, menghabisi waktu dengan air mata yg tak pernah habis ditangisi. Aku tak tahu jalan pulang menuju Bumi. Aku tak tahu arah mana yg harus kupilh antara kebutuhan dan keinginan. Bennington adalah sesungguhnya kebutuhanku, tapi Ellington memang sebenarnya keinginanku.

        Entahlah, apa planet itu tetap bertengkar memperebutkanku? Sedang pikiranku pun bertengkar memperebutkan mereka. Aku, perasaanku, dan hidupku jatuh setengah mati, melewati hari tanpa keputusan yg pasti, sampai akhirnya aku tenggelam dan mati ditengah hamparan rasi bintang dan tata surya milikNya, mengembuskan nafas terakhir, ketika warna senja yg paling indah memikat hati, diatas bangku pengendara di Pesawat Piring Terbangku. 


**Ada dua hal yg tidak bisa kita pilih secara bersamaan. Antara "Kebutuhan" atau "Keinginan", mereka 2 hal yg berbeda. Maka, beruntunglah kamu, jika memiliki keduanya.**




@


Kamis, 14 Juni 2012

Sang Pengingat

-->
Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa mengunci hatiku rapat-rapat…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa membiarkan rindu membiru tanpa menggebu…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika air mata lupa jatuh terjun saat punggung itu meninggalkanku…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika aku lupa menyalahkan asa dan langkah kaki yg tertapaki…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika hidupku lupa berjalan sejak tanpa hadir sisimu…

Aku tahu…
Kamu tak suka,
jika senyumku lupa berbinar saat mataharimu menenggelamkanku…

Sayang, aku tahu…
Kamu tak suka…
Aku bukanlah seorang pelupa…
Aku sang pengingat, pengingat masa senja, kala bersamamu…
Aku bukanlah seorang pelupa…
Aku sang pengingat, detil-detil rindu yg termakan hati…

Aku sang pengingat,
ketika pernah hidup bersama butir angin yg merubah langitmu menjadi pelangi…
Aku sang pengingat,
ketika pernah lupa melupakanmu, melupakan warna bayang yg pernah tertoreh…
Aku sang pengingat, sayang…
ketika hanya dirimulah yg mencoba melupa beribu jejak-jejak di mimpiku…



                                                                                                       
                                                                                        @vidhakiky

Minggu, 10 Juni 2012

Frankenstein ooooohhh Frankenstein...


          Sesekali dicium, sesekali diendusnya kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Begitu menggoda, sosok badan dengan lekuk tubuh yang lumayan membuat rusuk getir menolak menjauh. Jantungnya berdebar dengan detak yg tak seirama. Pinggang kecil, dada OK, punggung mulus seksi, walau kaki tidak terlalu jenjang dan perut yg tidak terlalu rata, yah lumayan lah.

Berdua berdekatan, enggan berinteraksi, hanya saja ingin berada di sisi. Bermain jari kaki, ditekuk melekuk kakinya dengan kaki sang pacar, lalu diluruskan kembali, ditekuk melekuk lalu diluruskan kembali, dan begitu seterusnya. Ditambah dengan tawa-tawa kecil yg terkekeh di samping telinga masing-masing.

“Are you happy?”
“What? Of course I am!!! Kenapa?”
“Cuma Tanya, takut kamu nggak happy dengan keadaan begini.”
Happy sih happy, Cuma sedikit gundah aja…”

          Terpegang-memegang perut mulus itu. Mengelus-dielusnya perut itu. Sambil menerka apa yg akan teradi dan apa yg akan dihadapi. Membayang-terbayang hal-hal yg indah bahkan yg tidak-tidak.

“Seperti apa yah kalau besar nanti?”
“Who know? Nobody knows!”
“Don’t ever leave me, Dear…”
“I won’t, but….. Aku juga nggak tau rencanaNya. Tuhan selalu punya rahasia akan beberapa lama waktu yg Ia berikan untuk menghidupi-memainkan ciptaanNya sendiri.”

          Pikirnya, waktu cepat bergulung, enggan mengulur. Akan tiba hari itu. “Hari Pengeluaran”, bisiknya dalam hati. Hari pengeluaran hasil satu dari seribu peluang. Hari dimana pengeluaran kehidupan baru.

          Dipeluknya dengan erat, kerasa takut kehilangan. Jari jemari saling menyilang dengan tertumpuknya kulit-kulit beda warna. Di atas tempat tidur yg nyaman, lampu temaram, alat pendingin menyala, meja berantakan, berjejal botol-botol bir terdiam-terbuka-menganga, sumpelan puntung rokok serta abu di sekeliling tepi meja, dan sofa? Entah masih pantaskah dibilang sebuah sofa atau bukan. Sedikit reyot, benang-benang keluar barisan, warna pudar, tidak empuk, serta tertumpuk-tumpuk baju yg tadi sedang dikenakan.

          Terekam suasana (yg memang) tidak kondusif. Tapi apalah arti? Semua terasa OK-OK saja. Bukan masalah apartement, tapi kita. Tentang semua kedekatan ini, tentang kakak tirinya, tentang ayah-ibunya.”Oh, bagaimana jika nanti ibu tahu?” Tanyanya selalu. Tentang kuliah yg masih belum tuntas karna tesis yg banyak revisi, tentang ini, tentang itu, tentang tujuh bulan yg akan datang, tentang hidup yg harus menghidupi si-kehidupan baru.

“Enstein?”
“Yup?”
“Frank-Enstein… Frankenstein!!! Nama yg bagus, bukan? Ayah Frank dan kamu Enstein. Di sini mengalir darah ayah dan kamu juga, kan?”
“Frankenstein? OK! Sounds good…”

          Didekapnya sang pacar kulit hitam manis, ibu dari calon babynya yg baru berusia dua bulan, yg tidak lain perempuan itu ialah adik tirinya sendiri. Enggan berinteraksi, hanya ingin berada di sisi. Sesekali dicium, sesekali diendusnya kulit sawo matang coklat belukar milik pacarnya itu. Entah bagaimana nanti? Perutnya mbelendung, bengkak terisi bekas dosa yg suci. Entahlah? Hari pengeluaran kira-kira tujuh bulan lagi membuat pikiran menjadi terbagi.

Aku kakak, kamu adik, lalu calon baby ini? Oh Frankenstein….. Oh Frankenstein…..  Dan ooooohhh Frankenstein, hasil karya dari uh-oh uh-oh malam itu.




@vidhakiky...


Sabtu, 28 April 2012

Bisakah, Sayang?

Bisakah, sayang?
Menatap lembaran langit, sebentar saja
Lalu menadah bintang-bintangnya untukku

Bisakah, sayang?
Duduk rapih di singgasanaku, sebentar saja
Agar kau tetap menjadi raja, untukku

Bisakah, sayang?
Bulan itu berhenti berputar, sebentar saja
Agar bumimu tetap terlihat siang, untukku

Bisakah, sayang?
Musik itu terdampar dalam mimpiku, sebentar saja
Agar kau tetap lincah menari, itu pun untukku

Bisakah, sayang?
Bisikkan kata cinta yg tak pernah kau ucap, sebentar saja
Lalu menutup rindumu rapat-rapat, hanya untukku

Bisakah, sayang?
Tidak terbuai sosok yg lain di sekitar
Ketika aku dan cintaku mulai sedikit memudar
Agar rasa yg termiliki tetap pada jalur-jalur bersinar

Sabtu, 10 Maret 2012

A Friday Afternoon's Conversation

“Heiiiii, nona manis... Yey udah nunggu lama yah? Sorry demorry stroberry yaw,  macicahmuhtar deh dijelong tadi...”


Key yg terkaget dengan sapaan kedatangan Bemby pun langsung menyambar dengan cipika-cipiki dan senyum lega.


“Kemana aja sik? Ogut nunggu hampir numbuh jenggot nih!” (Sela Key nyerocos bertanya)


“Eh jengong dong, jenggot kan buat lekong bukan buat yey Nona Manis-ku.” (Puji Bemby dengan semangat)


Bemby alias Bambang, teman curhat Key yg 80% jawabannya selalu ngaco kalau ditanya tentang curhatan percintaan. Key Senang, hari itu Bemby mampu menyempatkan waktu untuk bertemu, ngobrol dan ngopi bareng. Yg padahal aslinya Bemby sibuk sama urusan kerjaan sebagai editor majalah remaja dan bisnis butiknya.


“Sih Endong kemance, Non?”


“Apaan sik? Ogut ngga ngerti sama bahasa elo...”


“Maksud eike, sih Endong kemana gitu loh?”


“Oh doi mungkin dateng agak sorean, karna ada meeting dadakan sama bos nya tadi.”


Yup perlu diketahui kalau Bemby itu suka banget gonta-ganti nama orang sesuka hatinya. Seperti Andy yg sering dipanggil Endong atau Endang, yg dalam arti secara harafiah dalam bahasa banci adalah “enak”... Dan Key juga biasa dipanggil Nona Manis-ku.


Sore yg begitu tenang dengan minuman Thai-Tea kesukaan Key, ada Bemby yg duduk melambai disebelahnya, lalu sebentar lagi si Andy akan menyusul mereka. Sip! Hari ini personil “Three Musketeers” pun akan komplit berkumpul.


“Eh si Endong kita pesenin Machiato juga ngga? Atau nunggu orangnya ajjj......”
“Heyhooow guys, I’m already here!” (Seru Andy memutus pembicaraan Bemby dan memecah ketenangan sore itu)

“Ih eike kaget deh ah, suara yey kaya speaker mesjid kalo azan yah! Eike bacain Ayat Kursi nih!” (Jawab Bemby kaget)


“How was the traffic, Ndy?”


“It was terribly bad. You know lah Key, how traffic is when it’s raining.”


Key yg sedari tadi penasaran kenapa Andy tumben-tumbenan ngajak ngopi bareng itu langsung to the point bertanya.


“Inih ada apaan sih kita tiba-tiba diajak ngopi bareng dengan alasan URGENT dan EMERGENCY gitu?”
“Yah ampun Nona Manis-ku, segitu ngambeknya waktu Me-Time-nya disita buat ngopi bareng!” (Goda Andy sambil mencolek dagu Key)


“To the point aja lah Ndy! Kenapa? Kenapa lagi sih? Si Beo hamil gara-gara lo?” (Seru Key kesal)


“Apa? Apa? Si Beo Hamil gara-gara si Endong inih, Non?” (Samber Bemby penasaran sambil menunjuk ke arah muka Andy)


“Sialan lo ah Key, gossip aja deh! Hemmmmm, gue mau jelasin sesuatu sih. Gini nih, gue kan mungkin udah lama kerja dikantor itu dan ngerasa jenuh juga sama ke-statis-an kerjaan gue, jadi gue udah membuat keputusan yg besar dalam hidup gue, kalo gue..... dan gue..... dan..... dan..... dan.....”


“Dan?... Dandan deh ah, si bencong inih bikin eike penasaran ajah!”


“Dan?... Dan elo mau keluar dari kantor, tapi karna si Beo hamil, jadi elo membuat keputusan dan... dan... dan...? Gitu kan?” (Tanya Key sok tahu)


“Eh si Beo beneran hamil yah Ndong? Yah ampun Alhamdulillah yah akhirnya elo menunjukkan kalo elo bener-bener jantan! Asiiik mau punya baby nih yey...”


“Stop stop stooooop!!! Kalian bisa dengerin gue ngomong sampe selesai dulu ngga sih? All right, dan?..... Dan gue tiba-tiba dikasih kesempatan dari bos gue untuk beasiswa buat lanjut S-2 di Dubai, it means I’ll move there and leave you both here. See?... How lucky I am now! And pacar gue isn’t pregnant yah!”


“Haaah? Endong inih beneran yak? Jadi yey mau jadi TKI ke Dubai? Yah sepi deh per-disko-an di Jakarta kalo elo ngga ada.”


“Congrats Ndy, so damn glad to know that. I know you’ll be more success in the future hahaha”
“Widiiih yey udah kayak fortune-teller aja sih Non, sampe bisa nge-ramlan si Endong bakalan sukses jadi TKI di Dubai.”


“Ramal kali Bem, bukan ramlan! Kadang lidah elo kepelintir yah buat ngomong bahasa Indonesia yg baik dan benar.”


“Ih rumpi deh Endong, lidah nya lidah eike, suka-suka ah, entar eike pelintir beneran hatinya, baru yey tau rasa!”


Begitu deh kalo Three Musketeers udah pada ngumpul, sampe lupa tetangga di meja kanan-kiri-depan-belakang. Sore yg makin indah buat Key karna dia tahu kalau mimpi Andy melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 pun sudah didepan mata. Tawa tak bosan-bosannya terbahak dari senyum lebar di pipi Bemby, sedang Key... “Biarlah, sedikit melupa akan hadirmu sebentar saja.” Tutur Key dalam hati. Sebenarnya Key mau share tentang *dia* sama Andy dan Bemby, cuma Key tahu ini hari-nya-Andy, dan dia ngga mau merusak kesenangan ini dengan peluh hatinya.” (Monolog Key dalam hati.)


“Eh terus si Beo gimana tuh, Ndong? Putuskah? Atau LDR?”


“Sialan deh elo ah masih aja manggil pacar tercinta dan terkasih gue pake sebutan “BEO”, secerewet itukah pacar gue? She’s fine and she’s learning how to let me go away to Dubai. We’ll be in a long distance relationship, right? And it ain’t easy I know for her. Cos, cewe-cewe Dubai itu kan cantik-cantik luar binasaaa.”


“Widiiih si Endong centil amat! Luar biasa kaliii ah bukan binasa! Yey mesti inget yah perasaan cewe itu lebih sensitif loh kalo LDR-an. Yah kaya eike gini lah contohnya. Hihihihihiyyy... Eh Nona Manis-ku kenapose yey bengong? Jengong ah Non, nanti kesambet suster ngesot loh! Sedih yah si Endong mau jadi TKI?”


“Eh gue mau S-2 yah bukan mau jadi TKI... Anyway what’s wrong Key? Tell us lah if something distrub your mind. Key? Key? Key?” (Sela Andy)


“I do do do do do not wanna ruin our afternoon huhuhuhuhu...” (Jawab Key setengah sesegukan)


Sebenarnya ada sesuatu yg membuat pikiran Key begitu tegang dan berat. Tentang siapa lagi kalau bukan si gebetannya yg di luar kota itu. Entahlah, haruskah dilanjutkannya harap yg sudah hampir basi dimakan waktu. Lalu mengendaplah rasa dalam hati yg selalu dihias mimpi-mimpi yg berujung kecewa di hati. “Dear, I don’t wanna continue these hopes, but why your shadows always stand in my heart, blow my mind, fly my dreams, take me to dance in much imaginations and end it up with the disappointed-feeling then fall me down deeply?” (Seru Key dalam hati.)


“Nonaaa, kenapose? Ada orang yg tega nyakitin hati sampe yey gondok sesegukan begini?”


“Key.....?” (Sapa Andy lembut sambil mengusap air mata yg perlahan jatuh di kedua pipi Key)


“Oh eike tau nih Ndong, pasti gara-gara si Kepala Kakap itu lagi deh, iya kan Non?” (Ketus Bemby)


“Okay Key, breathe deeply Key, make your condition as comfort as possible then tell us about the Kepala Kakap itu.”


Key pun mulai bercerita.....


“Well, we’ve been getting closer about five or six months but there’s not any further step for us or from him exactly. To me, it’s hard to forget him and find the new one. You know lah Bem... Ndy... at first it wasn’t easy to open this heart (again) for another guy. I tried it and let him in. But once he stepped to get into it, I couldn’t throw him away from my mind. He has already come and knocked knocked my life, myheart, and my dream. I do really wish that he would find the sign-board of an “EXIT” way in my heart, so I could walk freely without something hanging-on, but he couldn’t...”


Keduanya ternganga mendengar cerita Key yg panjang dan nge-rap cepet kaya ngomel ngga pake napas.


“Oh jadi si Nona Manis-ku inih mau ngelupain gebetan, begitu? Hmmm coba dipikirin lagi deh, doi pantes apa engga ngedapetin cinta elo? Kalo pantes, yah nunggu aja dulu walau nunggu itu mesti sabar sesabar mungkin, Key. But if he shrug it of whilst you have plenty of to give, means he doesn’t deserve your love, titik!” (Jelas Andy)


“Eits ada benernya juga tuh Non sama apa yg dibilang Endong, udah ah Key, si Kepala Kakap itu jengong terlelong yey pikirin, biarin ajah, kalo perlu ditinggal aja di Restoran Padang, biar dijual terpisah deh tuh sama si Uda-Uda penjualnya. Yey itu kece, manis, intelek, berwawasan luas, humble, down to earth sampe cacing tanah aja kenal sama yey, and last you’re exotic. Yey deserve better lah dari si Kepala Kakap itu.” (Tambah Bemby)


“Thanks Bem, but what? I deserve better dari doi? Ah buat apa sih cari pacar yg ganteng-ganteng, sedangkan kalo doi aja yg jelek bikin ogut kecewa dan sakit hati!”


“Hahahahaha you just named it Key! Dulu aja elo bilang doi spesial kayak nasi goreng kambing pake telor, eh sekarang elo langsung bilang doi jelek! Hahahahaha it’s a real joke, Key! Hahahahahaha.” (Ledek Andy seraya mencoba melupakan gundah di hati sahabatnya itu)
“Thanks for this afternoon, my guys! Bebannya setidaknya jadi lebih sedikit ringan.” (Sela Key sambil menggengam ke tangan Andy di tangan kanan dan tangan Bemby di tangan kiri.)


“Eh Nona, yey pegang-pegang eike pake tangan kiri, tadi poop udah cebok belom nih? Duh yey jorse a.k.a jorok sekali ah!” (Jawab Bemby sambil mnengibaskan telapak tangan yg baru digenggam Key dengan kelingking yg mengetril)


            Key tahu kalau Andy dan Bemby bener bener sahabat di kala sedih, yg artinya memang mereka bisa menghilangkan sedih secepat mungkin, walau Key tahu mereka berdua Cuma mampu menghilangkan sedih tapi bukah menghilangkan masalah atau kasih solusi yg bener 100%. Suasana kembali cair setelah ketegangan Andy dan Bemby yg sempet ternganga melihat Key menjatuhkan air mata, yg sebenarnya Key itu anti menangis di tempat umum.


“So? What’s your story Bem? Any other story-of-the-bully? Hahaha.”


“Ih Endong, rumpi deh, udah lama yah jadi bencong ah? Ngeledek terus!!! Ada tuh gossip terkini, yey-yey tau kan tunangannya Brian?”


“HELENA?” (Jawab Key dan Andy kompak!)


“Yup it’s right, ya itu kanan! You both kompak deh! Si Lena, model tinggi, langsing, mulus, putih, tapi congkaknya minta ampun dan berdada rata ituh, kita pikir kan deise cinta mati yah sama si Brian yg sumpah gentle, kece, badan OK, dan mobilnya uuuuuwh super mewah.” (Jelas si Bemby dengan mulut monyongnya)


“Teruuuuus?”


“Eike kan lagi meeting di Perfecto Cafe’, bahas soal editan majalah gitu deh cint, eh eike liat deise yah makan suap-suapan sama laki lain boook, padahan laki itu bukan si Brian. Pas diperjelas, eh ternyata lelaki itu si Zean yg gitaris band ituh! Itu sih masih wajar yah, and jengjengjeng eike mergokin mereka saling kissing-lips-goodbye gitu deh di depan tempat valet mobil. 10menit si Zean pergi, eh dateng lah mobil mewah, and yg keluar dari mobil itu si Brian, mereka kissing terus capcus pergi lagi deh!”


“A what? Bukannya pernikahannya Lena sama Brian tinggal seminggu lagi? Kalian dapet undangannya kan?” (Tanya Andy keheranan)


“Yes I got, ih amit amit branches baby deh deise, mudah-mudahan Beo-nya si Andi ngga begitu deh pas ditinggan TKI ke Dubai...”


“Yah amit amit cabang bayi kali ah Bem, ngga usah sok di-Bristish-in yah, dan Andy mau S-2 bukan mau jadi TKI Timur Tengah yah!” (Sela Key membenarkan dan membela Andy)


“Bembiiiiiiiiii reseeeeeeeeeehhh!!! Eike pelintir nih bibir monyong yey!!!” (Goda Andy menggoda dengan bahasa bencongnya si Bemby)


“Eh yey ngga usah ikut-ikut bahasa eike yah Endooooong!” (Balas Bemby)



*Sabtu, 10 Maret 2012*

         Ada berita headline di salah satu surat kabar harian ibukota... Dengan tersedak Key membaca judul tersebut “KERETAKAN PERTUNANGAN MODEL CANTIK DENGAN ANAK PENGUSAHA.....”  Helena, model cantik yg telah bertunangan dengan anak pengusaha perusahaan Kapal Pesiar, Brian Sapoetro Aji, dinyatakan hubungannya telah kandas. Jelang satu minggu pernikahan mereka, Helena dengan teganya berselingkuh dengan Zean seorang gitaris band. Helena mengaku kalau hubungannya blablablablablablablablablabla...........


         Key menepuk jidat dan kembali tidak menyangka. How come she cheats on Brian? The wedding invitations have already spreaded.. Oooh life, sometimes isn’t fair (when I think, Brian deserves better than Helena), life sometimes awkward or sometimes it’s unexplained (when I can’t spell your thoughts and read your mind), or sometimes it’s unexpected, like you... My Dear.....


                                                                                               @vidhakiky